Minggu, 29 Januari 2012

Jeruk Busuk Rasa Manis

Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, "Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?"



Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.



Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.



Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, "Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?" suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.



Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.



Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. "Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa," kata si Ayah kepada keluarganya.



Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.



Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, "Jeruk asam begini kok dibawa..."



Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.



Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.


Kontributor: Awal Moedzakir Awaludin@snsgroup.co.id



-----------
Jeruk Busuk Rasa Manis

Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, "Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?"



Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.



Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.



Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, "Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?" suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.



Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.



Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. "Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa," kata si Ayah kepada keluarganya.



Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.



Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, "Jeruk asam begini kok dibawa..."



Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.



Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.


Kontributor: Awal Moedzakir Awaludin@snsgroup.co.id



-----------

Jeruk Busuk Rasa Manis

Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, "Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?"



Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.



Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.



Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, "Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?" suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.



Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.



Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya?

Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. "Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa," kata si Ayah kepada keluarganya.



Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.



Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, "Jeruk asam begini kok dibawa..."



Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli seperti jeruk manis dan segar.



Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.


Kontributor: Awal Moedzakir Awaludin@snsgroup.co.id



-----------
Oleh-oleh Dari Alam Kubur




Diambil dari Buku “Beo Berceloteh : Tuhan Seperti Aku” karangan A.H. Dabana





Dalam kisah ini kuberi nama diriku sebagai ‘Aku’. Cerita bermula pada suatu malam, aku pulang agak larut dari silaturahmi di rumah kawan. Malam terasa agak aneh, bulu kuduk keseringan bergidik. Perlahan-lahan ada orang yang menghadang di tengah jalan. Kelihatannya sih orang baik-baik. Tetapi ketika berhadapan langsung, ternyata ia seorang pria yang cukup simpatik. Anehnya, setiap melihat matanya, bulu kuduk selalu berdiri. Mungkinkah siluman hantu, atau malakalamaut yang menyamar jadi manusia.



Peristiwa ini agak aneh. Rasa-rasanya, kejadian seperti ini sudah kualami sebanyak 3 kali sebelumnya. Ini yang keempat. Orang-orang angker meski wajahnya ramah menawan, diajak berbicarapun mereka enggan menjawab.

Keempat orang-orang ini wajahnya berbeda, tetapi sama simpatiknya. Yang anehnya lagi aku tidak pernah bisa menceritakan peristiwa ini kepada orang lain, sehingga hanya aku saja yang mengetahuinya.

Jika kuhitung-hitung, kedatangan keempat orang tersebut beraturan lamanya. Kira-kira 40 hari muncul sekali. Ini adalah malam yang pertama setelah 40 hari telah berlalu.



Kira-kira, 40 hari berikutnya mungkin ia akan datang lagi menemuiku, demikian dalam benakku.

Setelah malam itu, hidupku terasa hampa tanpa tujuan lagi. Kadang-kadang aku merasa tidak berpikir dalam bertindak, berangkat dari rumah ke tempat kerja seperti ditiup angin saja. Benar-benar seperti kekosongan pikiran. Shalat yang kukerjakan mirip seperti orang yang dibimbing, yang searti dengan kata bukan kemauan sendiri, meski masih ada memori yang mengingatkan tibanya waktu shalat.

Gejala sakit apa ini? Demikian dalam benakku.



Tujuh hari menjelang hari 40 yang kunanti itu, banyak sekali tamu yang datang berkunjung ke rumahku. Mereka layaknya orang yang khidmat penuh kedukaan, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menegurku, hanya aku tahu dalam hati bahwa mereka adalah tamu untukku.

Ketika tiba hari yang ke 40, pagi hari terasa seperti lebih terang tidak biasanya. Rombongan tamu-tamu yang menungguku sejak seminggu lalu masih ada di ruang tamu. . Tiba-tiba ada ketukan pintu yang samar, tapi kenapa aku sendiri yang mendengarnya.

Lalu aku terbangun, tetapi kiranya orang yang mengetuk pintu rumah tadi sudah berada di pintu kamar. Seketika melihat wajahnya, seketika itu pula badanku gemetar tak kuasa digerakkan sedikitpun. Dalam hati ingin rasanya lari menjauh, Karena yang datang ini adalah pembunuh. Semua orang kelak pasti mengenalnya. Ketika ia tahu aku meronta, ia perlahan mendekati dan berkata, “Kau sudah masanya tinggal di bumi ini. Izinkan aku mengantarmu pulang. Bolehkah?”

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Tetapi di benakku masih ada sesuatu yang mengganjal, yaitu tiga orang anakku yang masih kecil-kecil.. Tiba-tiba, orang itu berkata lagi agak keras, “Lupakan itu, tinggalkan saja.” Ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang entah siapa yang membisikkan. Bahwa “Itu hanya akan membuatmu sakit bila roh dicabut.”

Lalu akupun menurut, dan mencoba melupakannya. Sesaat kemudian orang tersebut sudah berada di atas kepala sekitar ubun-ubun. Kurasa dia inilah yang dinamakan Malakalamaut. Tiba-tiba tubuhku seperti ditarik, diperas, seperti dibuat memendek dari ujung kaki ke atas. Saat itu seluruh tubuh seperti disayat dengan silet tajam. Semakin kucoba menahan tarikan itu agar jangan terlepas, semakin sakit rasanya. Jika kutahan, orang itu membentak, akhirnya tiada daya kecuali pasrah merelakan.



Sesaat kemudian, aku melihat diriku terkulai di ranjang seperti tertidur pulas. Terlihat anak-anak dan istriku sedang mengerumuni dan menangisi diriku yang sedang tertidur pulas. Bila kuperhatikan, aku seperti tidak percaya bahwa yang tertidur itu adalah jasadku sendiri.

Beberapa waktu kemudian, terlihat rombongan orang mengantar mayat itu ke kuburan. Perlahan mayat itu dibenamkan ke dalam tanah dan diurug rapat-rapat kemudian diberi nisan. Jelas sekali di nisan itu tertera namaku. Saat itu aku baru yakin seyakin-yakinnya, bahwa aku sudah mati kini.

Selama mengikuti rombongan pengantar mayat itu aku ditemani oleh dua ‘orang’. Entah siapa mereka. Ketika rombongan itu sudah pulang semuanya, kini giliranku disuruh masuk ke dalam kuburan itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang terlihat hanyalah ruangan kuburan yang tidak sempit tetapi tidak pula terlalu luas.



Pertanyaan dalam kubur mulai dilontarkan, persis seperti dengan cerita guruku waktu di dunia dulu.. Tapi kali ini yang menanyai diriku tidak terlampau seram, cara bertanyanya juga biasa-biasa saja. Kupikir wajar, sebab dulu waktu di dunia aku ini tidak banyak bertingkah, cukup rajin shalat, puasa bila tiba masanya dan banyak lagi perbuatan baik yang aku lakukan. Aku merasa perlakuan Malaikat Munkar Nakir ini seperti tahu persis kelakuanku waktu di dunia dulu.



Setelah pertanyaan itu selesai, pintu-pintu dalam kubur mulai terkuak. Sepertinya bukan tempat penantian yang menyiksa, hanya saja terdapat keterbatasan bergerak atau berbuat sesuatu. Ketika hal itu kutanyakan pada petugas yang ada dalam kubur, mereka menjawab,”Meski anda dulunya taat beribadah tetapi anda kurang ikhlas dan terkesan riya’. Makanya anda diperlakukan seperti itu di tempat ini. Coba kalau anda beribadah semata ikhlas karena Allah, tempat anda seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke belakang. Ketika aku menoleh, ternyata di sana ada seorang pria yang duduk di atas kursi mirip singgasana raja sedang dikipas oleh sejumlah bidadari. Mereka itu adalah istri-istrinya dan dia seperti pengantin baru selamanya. “ Orang itu beruntung, kamipun tidak berani menegurnya. Dia orang mulia waktu di dunia dulu.”

“Dan anda masih beruntung, tidak seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke bawah. Aku menoleh ke bawah, di sana terlihat ada beberapa orang yang dirantai kaki dan tangannya dan senantiasa dijaga oleh seekor ular ‘galak’

“Beberapa waktu lagi anda masih menjalani pemeriksaan yang lebih teliti berkaitan dengan amalan perbuatan anda. Akan dilihat bagaimana hasil perhitngan nantinya.”



Tiba-tiba datang panggilan dari suatu sudut ruang yang memerintahkan agar aku digiring ke suatu tempat untuk rekaman garis besar perbuatanku. Di situlah aku baru tercengang hebat, ternyata lebih banyak pahalaku yang hampir sebagian besar berbau riya’. Sesaat aku tertegun, tiba-tiba satu bentakan keras terdengar dari belakang, “Hei ke sini kamu, kamu ternyata riya!”



Saking kagetnya mendengar bentakan itu, sehingga aku iba-tiba terbangun dari tidur yang teramat menyeramkan itu.



Begitu menyadari bahwa kejadian itu adalah mimpi semata, serta merta “Alhamdulillah” gumamku. Ternyata aku masih diberi kesempatan hidup. Aku berpikir, mimpi ini begitu nyata, apakah mungkin sebuah pengembalian yang direkayasa. Oh…demikian panjang perjalanan sesaat ini, sampai membuatku merasa lelah. Dalam hatiku berkata, “Seandainya boleh hidup tak perlu tidur lagi, aku akan beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa sekelumit riya’ sedikitpun.”


Kontributor: Susiana Budiastuti Susiana.Budiastuti@snsgroup.co.id



-----------

Oleh-oleh Dari Alam Kubur

Diambil dari Buku “Beo Berceloteh : Tuhan Seperti Aku” karangan A.H. Dabana





Dalam kisah ini kuberi nama diriku sebagai ‘Aku’. Cerita bermula pada suatu malam, aku pulang agak larut dari silaturahmi di rumah kawan. Malam terasa agak aneh, bulu kuduk keseringan bergidik. Perlahan-lahan ada orang yang menghadang di tengah jalan. Kelihatannya sih orang baik-baik. Tetapi ketika berhadapan langsung, ternyata ia seorang pria yang cukup simpatik. Anehnya, setiap melihat matanya, bulu kuduk selalu berdiri. Mungkinkah siluman hantu, atau malakalamaut yang menyamar jadi manusia.



Peristiwa ini agak aneh. Rasa-rasanya, kejadian seperti ini sudah kualami sebanyak 3 kali sebelumnya. Ini yang keempat. Orang-orang angker meski wajahnya ramah menawan, diajak berbicarapun mereka enggan menjawab.

Keempat orang-orang ini wajahnya berbeda, tetapi sama simpatiknya. Yang anehnya lagi aku tidak pernah bisa menceritakan peristiwa ini kepada orang lain, sehingga hanya aku saja yang mengetahuinya.

Jika kuhitung-hitung, kedatangan keempat orang tersebut beraturan lamanya. Kira-kira 40 hari muncul sekali. Ini adalah malam yang pertama setelah 40 hari telah berlalu.



Kira-kira, 40 hari berikutnya mungkin ia akan datang lagi menemuiku, demikian dalam benakku.

Setelah malam itu, hidupku terasa hampa tanpa tujuan lagi. Kadang-kadang aku merasa tidak berpikir dalam bertindak, berangkat dari rumah ke tempat kerja seperti ditiup angin saja. Benar-benar seperti kekosongan pikiran. Shalat yang kukerjakan mirip seperti orang yang dibimbing, yang searti dengan kata bukan kemauan sendiri, meski masih ada memori yang mengingatkan tibanya waktu shalat.

Gejala sakit apa ini? Demikian dalam benakku.



Tujuh hari menjelang hari 40 yang kunanti itu, banyak sekali tamu yang datang berkunjung ke rumahku. Mereka layaknya orang yang khidmat penuh kedukaan, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menegurku, hanya aku tahu dalam hati bahwa mereka adalah tamu untukku.

Ketika tiba hari yang ke 40, pagi hari terasa seperti lebih terang tidak biasanya. Rombongan tamu-tamu yang menungguku sejak seminggu lalu masih ada di ruang tamu. . Tiba-tiba ada ketukan pintu yang samar, tapi kenapa aku sendiri yang mendengarnya.

Lalu aku terbangun, tetapi kiranya orang yang mengetuk pintu rumah tadi sudah berada di pintu kamar. Seketika melihat wajahnya, seketika itu pula badanku gemetar tak kuasa digerakkan sedikitpun. Dalam hati ingin rasanya lari menjauh, Karena yang datang ini adalah pembunuh. Semua orang kelak pasti mengenalnya. Ketika ia tahu aku meronta, ia perlahan mendekati dan berkata, “Kau sudah masanya tinggal di bumi ini. Izinkan aku mengantarmu pulang. Bolehkah?”

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Tetapi di benakku masih ada sesuatu yang mengganjal, yaitu tiga orang anakku yang masih kecil-kecil.. Tiba-tiba, orang itu berkata lagi agak keras, “Lupakan itu, tinggalkan saja.” Ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang entah siapa yang membisikkan. Bahwa “Itu hanya akan membuatmu sakit bila roh dicabut.”

Lalu akupun menurut, dan mencoba melupakannya. Sesaat kemudian orang tersebut sudah berada di atas kepala sekitar ubun-ubun. Kurasa dia inilah yang dinamakan Malakalamaut. Tiba-tiba tubuhku seperti ditarik, diperas, seperti dibuat memendek dari ujung kaki ke atas. Saat itu seluruh tubuh seperti disayat dengan silet tajam. Semakin kucoba menahan tarikan itu agar jangan terlepas, semakin sakit rasanya. Jika kutahan, orang itu membentak, akhirnya tiada daya kecuali pasrah merelakan.



Sesaat kemudian, aku melihat diriku terkulai di ranjang seperti tertidur pulas. Terlihat anak-anak dan istriku sedang mengerumuni dan menangisi diriku yang sedang tertidur pulas. Bila kuperhatikan, aku seperti tidak percaya bahwa yang tertidur itu adalah jasadku sendiri.

Beberapa waktu kemudian, terlihat rombongan orang mengantar mayat itu ke kuburan. Perlahan mayat itu dibenamkan ke dalam tanah dan diurug rapat-rapat kemudian diberi nisan. Jelas sekali di nisan itu tertera namaku. Saat itu aku baru yakin seyakin-yakinnya, bahwa aku sudah mati kini.

Selama mengikuti rombongan pengantar mayat itu aku ditemani oleh dua ‘orang’. Entah siapa mereka. Ketika rombongan itu sudah pulang semuanya, kini giliranku disuruh masuk ke dalam kuburan itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang terlihat hanyalah ruangan kuburan yang tidak sempit tetapi tidak pula terlalu luas.



Pertanyaan dalam kubur mulai dilontarkan, persis seperti dengan cerita guruku waktu di dunia dulu.. Tapi kali ini yang menanyai diriku tidak terlampau seram, cara bertanyanya juga biasa-biasa saja. Kupikir wajar, sebab dulu waktu di dunia aku ini tidak banyak bertingkah, cukup rajin shalat, puasa bila tiba masanya dan banyak lagi perbuatan baik yang aku lakukan. Aku merasa perlakuan Malaikat Munkar Nakir ini seperti tahu persis kelakuanku waktu di dunia dulu.



Setelah pertanyaan itu selesai, pintu-pintu dalam kubur mulai terkuak. Sepertinya bukan tempat penantian yang menyiksa, hanya saja terdapat keterbatasan bergerak atau berbuat sesuatu. Ketika hal itu kutanyakan pada petugas yang ada dalam kubur, mereka menjawab,”Meski anda dulunya taat beribadah tetapi anda kurang ikhlas dan terkesan riya’. Makanya anda diperlakukan seperti itu di tempat ini. Coba kalau anda beribadah semata ikhlas karena Allah, tempat anda seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke belakang. Ketika aku menoleh, ternyata di sana ada seorang pria yang duduk di atas kursi mirip singgasana raja sedang dikipas oleh sejumlah bidadari. Mereka itu adalah istri-istrinya dan dia seperti pengantin baru selamanya. “ Orang itu beruntung, kamipun tidak berani menegurnya. Dia orang mulia waktu di dunia dulu.”

“Dan anda masih beruntung, tidak seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke bawah. Aku menoleh ke bawah, di sana terlihat ada beberapa orang yang dirantai kaki dan tangannya dan senantiasa dijaga oleh seekor ular ‘galak’

“Beberapa waktu lagi anda masih menjalani pemeriksaan yang lebih teliti berkaitan dengan amalan perbuatan anda. Akan dilihat bagaimana hasil perhitngan nantinya.”



Tiba-tiba datang panggilan dari suatu sudut ruang yang memerintahkan agar aku digiring ke suatu tempat untuk rekaman garis besar perbuatanku. Di situlah aku baru tercengang hebat, ternyata lebih banyak pahalaku yang hampir sebagian besar berbau riya’. Sesaat aku tertegun, tiba-tiba satu bentakan keras terdengar dari belakang, “Hei ke sini kamu, kamu ternyata riya!”



Saking kagetnya mendengar bentakan itu, sehingga aku iba-tiba terbangun dari tidur yang teramat menyeramkan itu.



Begitu menyadari bahwa kejadian itu adalah mimpi semata, serta merta “Alhamdulillah” gumamku. Ternyata aku masih diberi kesempatan hidup. Aku berpikir, mimpi ini begitu nyata, apakah mungkin sebuah pengembalian yang direkayasa. Oh…demikian panjang perjalanan sesaat ini, sampai membuatku merasa lelah. Dalam hatiku berkata, “Seandainya boleh hidup tak perlu tidur lagi, aku akan beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa sekelumit riya’ sedikitpun.”


Kontributor: Susiana Budiastuti Susiana.Budiastuti@snsgroup.co.id



-----------
Oleh-oleh Dari Alam Kubur




Diambil dari Buku “Beo Berceloteh : Tuhan Seperti Aku” karangan A.H. Dabana





Dalam kisah ini kuberi nama diriku sebagai ‘Aku’. Cerita bermula pada suatu malam, aku pulang agak larut dari silaturahmi di rumah kawan. Malam terasa agak aneh, bulu kuduk keseringan bergidik. Perlahan-lahan ada orang yang menghadang di tengah jalan. Kelihatannya sih orang baik-baik. Tetapi ketika berhadapan langsung, ternyata ia seorang pria yang cukup simpatik. Anehnya, setiap melihat matanya, bulu kuduk selalu berdiri. Mungkinkah siluman hantu, atau malakalamaut yang menyamar jadi manusia.



Peristiwa ini agak aneh. Rasa-rasanya, kejadian seperti ini sudah kualami sebanyak 3 kali sebelumnya. Ini yang keempat. Orang-orang angker meski wajahnya ramah menawan, diajak berbicarapun mereka enggan menjawab.

Keempat orang-orang ini wajahnya berbeda, tetapi sama simpatiknya. Yang anehnya lagi aku tidak pernah bisa menceritakan peristiwa ini kepada orang lain, sehingga hanya aku saja yang mengetahuinya.

Jika kuhitung-hitung, kedatangan keempat orang tersebut beraturan lamanya. Kira-kira 40 hari muncul sekali. Ini adalah malam yang pertama setelah 40 hari telah berlalu.



Kira-kira, 40 hari berikutnya mungkin ia akan datang lagi menemuiku, demikian dalam benakku.

Setelah malam itu, hidupku terasa hampa tanpa tujuan lagi. Kadang-kadang aku merasa tidak berpikir dalam bertindak, berangkat dari rumah ke tempat kerja seperti ditiup angin saja. Benar-benar seperti kekosongan pikiran. Shalat yang kukerjakan mirip seperti orang yang dibimbing, yang searti dengan kata bukan kemauan sendiri, meski masih ada memori yang mengingatkan tibanya waktu shalat.

Gejala sakit apa ini? Demikian dalam benakku.



Tujuh hari menjelang hari 40 yang kunanti itu, banyak sekali tamu yang datang berkunjung ke rumahku. Mereka layaknya orang yang khidmat penuh kedukaan, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menegurku, hanya aku tahu dalam hati bahwa mereka adalah tamu untukku.

Ketika tiba hari yang ke 40, pagi hari terasa seperti lebih terang tidak biasanya. Rombongan tamu-tamu yang menungguku sejak seminggu lalu masih ada di ruang tamu. . Tiba-tiba ada ketukan pintu yang samar, tapi kenapa aku sendiri yang mendengarnya.

Lalu aku terbangun, tetapi kiranya orang yang mengetuk pintu rumah tadi sudah berada di pintu kamar. Seketika melihat wajahnya, seketika itu pula badanku gemetar tak kuasa digerakkan sedikitpun. Dalam hati ingin rasanya lari menjauh, Karena yang datang ini adalah pembunuh. Semua orang kelak pasti mengenalnya. Ketika ia tahu aku meronta, ia perlahan mendekati dan berkata, “Kau sudah masanya tinggal di bumi ini. Izinkan aku mengantarmu pulang. Bolehkah?”

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Tetapi di benakku masih ada sesuatu yang mengganjal, yaitu tiga orang anakku yang masih kecil-kecil.. Tiba-tiba, orang itu berkata lagi agak keras, “Lupakan itu, tinggalkan saja.” Ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang entah siapa yang membisikkan. Bahwa “Itu hanya akan membuatmu sakit bila roh dicabut.”

Lalu akupun menurut, dan mencoba melupakannya. Sesaat kemudian orang tersebut sudah berada di atas kepala sekitar ubun-ubun. Kurasa dia inilah yang dinamakan Malakalamaut. Tiba-tiba tubuhku seperti ditarik, diperas, seperti dibuat memendek dari ujung kaki ke atas. Saat itu seluruh tubuh seperti disayat dengan silet tajam. Semakin kucoba menahan tarikan itu agar jangan terlepas, semakin sakit rasanya. Jika kutahan, orang itu membentak, akhirnya tiada daya kecuali pasrah merelakan.



Sesaat kemudian, aku melihat diriku terkulai di ranjang seperti tertidur pulas. Terlihat anak-anak dan istriku sedang mengerumuni dan menangisi diriku yang sedang tertidur pulas. Bila kuperhatikan, aku seperti tidak percaya bahwa yang tertidur itu adalah jasadku sendiri.

Beberapa waktu kemudian, terlihat rombongan orang mengantar mayat itu ke kuburan. Perlahan mayat itu dibenamkan ke dalam tanah dan diurug rapat-rapat kemudian diberi nisan. Jelas sekali di nisan itu tertera namaku. Saat itu aku baru yakin seyakin-yakinnya, bahwa aku sudah mati kini.

Selama mengikuti rombongan pengantar mayat itu aku ditemani oleh dua ‘orang’. Entah siapa mereka. Ketika rombongan itu sudah pulang semuanya, kini giliranku disuruh masuk ke dalam kuburan itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang terlihat hanyalah ruangan kuburan yang tidak sempit tetapi tidak pula terlalu luas.



Pertanyaan dalam kubur mulai dilontarkan, persis seperti dengan cerita guruku waktu di dunia dulu.. Tapi kali ini yang menanyai diriku tidak terlampau seram, cara bertanyanya juga biasa-biasa saja. Kupikir wajar, sebab dulu waktu di dunia aku ini tidak banyak bertingkah, cukup rajin shalat, puasa bila tiba masanya dan banyak lagi perbuatan baik yang aku lakukan. Aku merasa perlakuan Malaikat Munkar Nakir ini seperti tahu persis kelakuanku waktu di dunia dulu.



Setelah pertanyaan itu selesai, pintu-pintu dalam kubur mulai terkuak. Sepertinya bukan tempat penantian yang menyiksa, hanya saja terdapat keterbatasan bergerak atau berbuat sesuatu. Ketika hal itu kutanyakan pada petugas yang ada dalam kubur, mereka menjawab,”Meski anda dulunya taat beribadah tetapi anda kurang ikhlas dan terkesan riya’. Makanya anda diperlakukan seperti itu di tempat ini. Coba kalau anda beribadah semata ikhlas karena Allah, tempat anda seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke belakang. Ketika aku menoleh, ternyata di sana ada seorang pria yang duduk di atas kursi mirip singgasana raja sedang dikipas oleh sejumlah bidadari. Mereka itu adalah istri-istrinya dan dia seperti pengantin baru selamanya. “ Orang itu beruntung, kamipun tidak berani menegurnya. Dia orang mulia waktu di dunia dulu.”

“Dan anda masih beruntung, tidak seperti itu”, sambil penjaga itu menunjuk ke bawah. Aku menoleh ke bawah, di sana terlihat ada beberapa orang yang dirantai kaki dan tangannya dan senantiasa dijaga oleh seekor ular ‘galak’

“Beberapa waktu lagi anda masih menjalani pemeriksaan yang lebih teliti berkaitan dengan amalan perbuatan anda. Akan dilihat bagaimana hasil perhitngan nantinya.”



Tiba-tiba datang panggilan dari suatu sudut ruang yang memerintahkan agar aku digiring ke suatu tempat untuk rekaman garis besar perbuatanku. Di situlah aku baru tercengang hebat, ternyata lebih banyak pahalaku yang hampir sebagian besar berbau riya’. Sesaat aku tertegun, tiba-tiba satu bentakan keras terdengar dari belakang, “Hei ke sini kamu, kamu ternyata riya!”



Saking kagetnya mendengar bentakan itu, sehingga aku iba-tiba terbangun dari tidur yang teramat menyeramkan itu.



Begitu menyadari bahwa kejadian itu adalah mimpi semata, serta merta “Alhamdulillah” gumamku. Ternyata aku masih diberi kesempatan hidup. Aku berpikir, mimpi ini begitu nyata, apakah mungkin sebuah pengembalian yang direkayasa. Oh…demikian panjang perjalanan sesaat ini, sampai membuatku merasa lelah. Dalam hatiku berkata, “Seandainya boleh hidup tak perlu tidur lagi, aku akan beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa sekelumit riya’ sedikitpun.”


Kontributor: Susiana Budiastuti Susiana.Budiastuti@snsgroup.co.id



-----------
Ahmad Izzah





Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang.

‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, “Rabbi, waana’abduka…” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

******************************************************

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi…Abi…” Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang ba pak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi
namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan
Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

*******************************************************

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai’tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh -puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti
kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah..” Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah…”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30)



Kontributor: Risdianto Risdianto@snsgroup.co.id



-----------