Senin, 04 Juni 2012

Kekasih Yang Selalu Dirindukan

Siapa saja yang tidak beruntung di bulan Ramadhan, di bulan apa lagi dia akan beruntung? Apa jadinya bila kita bertemu kembali dengan kekasih yang telah berpisah setahun lamanya? Sudah pasti perjumpaan itu menjadi sesuatu yang mengharukan. Seperti kata pujangga, tak ada yang lebih indah dari bersua kembali dengan kekasih yang dirindukan.

Demikianlah gambaran keindahan Ramadhan. Bulan yang paling dirindukan oleh orang-orang shalih. Seperti dinyatakan dalam salah satu hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, ia berkata: ''Ketika tiba bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda, 'Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah wajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tak mendapat kebaikannya, sungguh ia telah merugi.'' (HR Imam Ahmad)

Bagaimana mungkin orang-orang shalih tidak berbahagia dengan dibukanya pintu-pintu surga? Setiap kali tiba malam Idul Fitri, orang-orang shalih menangis, karena mereka harus berpisah dengan Ramadhan. Mereka tidak tahu apakah akan bertemu kembali atau tidak dengan Ramadhan tahun yang akan datang. Karena itu, setiap kali Ramadhan datang menghampiri, mereka suka cita seperti kebahagiaan seorang kekasih berjumpa kembali dengan kekasihnya.

Ramadhan memang bulan yang pantas untuk dirindukan. Ramadhan adalah bulan paling agung yang di dalamnya terhimpun hari-hari dan malam-malam yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran. Bulan yang setiap amal ibadah dibalas dengan balasan berlipat-lipat ganda. Begitu indahnya Ramadhan, sehingga Rasulullah memperlakukannya seperti seseorang yang meyambut kedatangan kekasihnya dengan melakukan berbagai persiapan. Dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah mempersiapkan dirinya sejak bulan Sya'ban. Beliau menyambut Ramadhan dengan berbagai persiapan, baik secara praktis maupun mental.

Bahkan, persiapan itu sudah dimulai sejak bulan Rajab. Dua bulan sebelum Ramadhan, Rasulullah biasa berdoa, ''Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan berkahi pula kami di bulan Ramadhan.'' (HR Imam Ahmad)

Al-Ma'ali bin Fadhl berkata, ''Mereka (para sahabat) berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, dan enam bulan setelah itu mereka berdoa agar amalnya diterima di sisi Allah Subhanahu wata'ala.'' Seolah-olah orang yang memanggil bulan Ramadhan itu berkata, ''Wahai hari-hari yang telah lama meninggalkan kami! Kini telah dekat waktu kedatanganmu. Wahai hari-hari yang kerugiannya selalu disesali! Telah tiba perdagangan menguntungkan itu. Siapa saja yang tidak beruntung di bulan Ramadhan, di bulan apa lagi dia akan beruntung? Siapa saja yang tidak mendekatkan diri kepada Rabb-nya, bagaimana mungkin ia akan beruntung?'' Selamat datang Ramadhan. Selamat datang kekasih yang dirindukan.


Kontributor: Susiana Budiastuti Susiana.Budiastuti@snsgroup.co.id



-----------

Kesenangan dan Kesusahan

Al-qur’an mengatakan, bahwa hidup di dunia ini sebenarnya adalah hanya senda gurau. Susah dan senang akan datang saling bergantian, yaitu sebagai wujud cobaan dari yang maha kuasa. Walaupun hal ini tidak dipungkiri, tapi pernahkah kita memberikan nasihat untuk bersabar dan tabah di kala orang sedang terbenam dalam ujian kesenangan dan kemewahan hidup? Mungkin kalau hal ini kita lakukan, orang akan menganggap kita sebagai orang yang kurang waras; meskipun Al-qur’an jelas-jelas telah menyatakan bahwa ujian Allah tidak hanya keburukan saja, kenikmatan pun merupakan ujian-Nya juga. Firman Allah dalam surat Al-A’raaf:168 menegaskan hal ini “Kami coba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk”



Sebenarnya kalau kita mau jujur, orang justru lebih banyak yang gagal menghadapi ujian Allah di kala senang, ketimbang di waktu susah. Kekhawatiran Rasulullah mengenai hal ini pun bukannya tidak ada. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku justru khawatir (kalau-kalau) kemegahan dunia yang kalian dapatkan, yaitu sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang sebelum kalian akan membuat kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga kalian binasa, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang sebelum kalian”



Nampaknya jarang manusia yang menyadari, bahwa kebaikan ataupun kesenangan hidup itu adalah sebenarnya ujian Allah juga. Hal ini boleh jadi karena mereka tidak menyadari apa sebenarnya yang dimaksud dengan ujian Allah itu.

Jangan Ukur Keberhasilan Dari Tepuk Tangan Penonton.

Bila kita melakukan sesuatu yang baik dan orang memuji, lalu ada rasa senang, maka itu tak apa. Rasa senang muncul bukan karena kehendak kita. Rasa senang itu bagai belaian alam yang mengusap keringat kita; mengubah butir-butirnya menjadi gula-gula pemanis. Namun bila kemudian kita menikmatinya dan bekerja demi memperoleh kesenangan dari pujian itu, maka itu mara. Itu petaka, saat itu kita telah kehilangan kebebasan dalam berkebaikan. Kita seolah bekerja keras agar orang lain puas, padahal gelisah menanti ceceran remah-remah sanjungan. Jangan demikian, jangan timbang keberhasilan kita dari seberapa tinggi salut orang lain pada kita. Seluruh bakat kita adalah anugrah Allah Subhanahu wata'ala, maka kembalikan ia pada NYa. Lepaskan itu sebagaimana kita melepaskan rajawali. Seperti kata pujangga bahwa rajawali milik langit, biarkan dia ditelan langit. Menahan agar emosi tak terbakar oleh sepatah makian mungkin terasa sulit. Namun, jauh lebih sulit menahan kerusakan diri akibat sebuah sanjungan yang kita telan mentah-mentah. Bagaikan memar yang terbungkus es, sakit pun tak terasa, namun kerusakan jaringan tetap ada disana. Bila kita tak segera mengobatinya, tubuh yang sehat lambat laun membusuk. Daya hancur sanjungan tak jauh beda dari itu. Bila makian dapat menghilangkan kesadaran seketika, sanjungan membius secara perlahan dan lembut. Di balik nikmat sejuk sebuah pujian, tersembunyi memar yang memakan kelak, memakan habis kesadaran kita. Berhati-hatilah dengan setiap pujian, sanjungan dan kehormatan yang kita terima. Karena itu suatu cobaan bagi kita. Kontributor: Ervi Yusria Iim.Imadudin@snsgroup.co.id -----------

Kebodohan Universal

Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama-sama, karena jangan-jangan akibat kesibukan kita, kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya. Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita? Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh. Sekarang marilah kita perhatikan diri kita; jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu. Kita acapkali menghabiskan modal yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti. Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah usia! Bukankah umur merupakan modal yang paling besar bagi manusia? Bila kita perhatikan dengan cermat, manusia itu pada hakikatnya adalah pengendara di atas punggung usia. Ia menempuh perjalanan hidupnya, melewati hari demi hari, menjauhi dunia dan mendekati liang kubur. Dalam hal ini ada seorang bijak yang mengutarakan keheranannya “Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya” Kadang-kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang atau hilang, tapi sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita yang berkurang? Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya? Ironisnya lagi, kehilangan usia ini malah kita rayakan dengan sesemarak mungkin dan menghabiskan biaya yang cukup besar. Barangkali inilah satu-satunya kebodohan manusia yang bersifat universal, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya. Padahal semua orang mengerti, bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi atau kembali lagi kepada kita. Saudaraku…..ada lagi yang aneh pada diri kita, yaitu kita mau berjuang mati-matian mengerahkan seluruh daya dan potensi yang ada untuk mendapatkan sesuatu yang belum pasti kita peroleh; sementara untuk hal yang sudah pasti terjadi, kita hadapi dengan usaha yang sekedarnya saja. Bukankah satu-satunya kepastian bagi manusia itu adalah hanya kematian? Tidakkah kita sadari, bahwa sebenarnya kita semua sedang berkarya dalam batas hari-hari yang pendek untuk hari-hari yang panjang? Lalu mengapa kita selalu cenderung membangun istana duniawi, sedangkan istana akhirat kita abaikan? Bila kita sadar dengan tujuan keberadaan kita di dunia, maka pastilah kita menjadikan usia sebagai sesuatu yang paling berharga. Ia lebih mahal dari emas, intan berlian, atau batu mulia apapun. Oleh sebab itu, ia harus digunakan seoptimal mungkin. Ada perkataan seorang bijak yang sangat baik kita renungkan, katanya: “Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap tenggelamnya matahari, yang berarti umurku berkurang, akan tetapi amal shalihku tidak bertambah” Mengapa kita biarkan umur kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti? Apakah sudah demikian parahnya kebodohan kita, sehingga rela menghabiskan modal yang paling bernilai untuk sesuatu yang tidak bernilai? Bukankah kita harus mempertanggungjawabkan setiap menit yang berlalu? Al-Mu’minun:115 menegaskan hal ini: “Apakah kamu sekalian mengira, bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan?” Mudah-mudahan renungan ini mampu menggugah hati nurani kita, sehingga kita tidak mau lagi membuang-buang umur dengan percuma, apalagi bersukacita pada saat umur kita berlalu atau berkurang. Kontributor: Agus Cahyana Agus.Cahyana@snsgroup.co.id -----------

bekal untuk akhirat

Persiapan Menuju Akhirat








Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:

1. Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.

2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama'ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu'an dan mema-hami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.

3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari'atkan.

4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Dan senantiasalah hamba-Ku mende-katkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhori dan Ahmad)

7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta'atan.

8. Berbuat ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala dan meninggalkan riya' dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)

9. Mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (Baca: QS. Ali 'Imran: 31)

10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum Mukminin sekali pun mereka jauh dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.

11. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.

12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.

13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah subhanahu wata’ala. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 23)

14. Menuntut ilmu yang bermanfa'at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187)

15. Mengagungkan al-Qur'an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari)

16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasar-kan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang." (Muttafaqun 'alaih)

17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih)

18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)

19. Tidak melakukan zina, minum khamer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah subhanahu wata’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33)

20. Wara' (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)

21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun 'alaih)

22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.

23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.

24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26)

25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehor-matan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.

26. Beramar ma'ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara hikmah dan Mau'izhoh Hasanah.

27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An'am: 152)

28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu' (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.

29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)

30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat." (Muttafaqun 'alaih)

31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.

32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan

33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.

34. Mencintai shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ke-luarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau men-cela mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia." (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)

35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas

36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya

37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena'ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)

38. Tidak berbuat Bid'ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.

39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.

40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka.

 Kontributor: Dewa Inskari Dewa.Putra@snsgroup.co.id



-----------

Sumber: Az-Zâ'ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih (Abu Shofiyyah

susahnya menjadi orang miskin

Dullah Bukan Orang Miskin Sebutlah Dulah meski bukan nama aslinya, memiliki satu istri dan dua anak yang usianya masih kecil. Lengkap rasanya bentuk kebahagiaan yang dimiliki oleh Dulah. Bekerja sebagai office boy pada suatu perusahaan swasta di Kota Makassar. Ibukota propinsi Sulawesi Selatan mulai berkembang pesat. Bangunan pertokoan mulai bermunculan di pinggir jalan-jalan. Hidupnya dilalui dengan rutinitas yang konstan. Pagi saat matahari baru menampakkan cahaya, Dulah sudah bekutat dengan pakaian kotor yang dicucinya. Sementara sang istri sibuk menanak nasi dan membersihkan rumah. Dua anak karunia Tuhan tampak masih terlelap manis di kasur. Pukul 7 pagi harus sudah ada di kantor, membersihkan setiap ruangan agar tampak tetap nyaman. Saat pagi, karyawan mulai berdatangan dan Dulah pasti mengumbar senyum, menyapa sambil menanyakan hidangan minuman sesuai dengan permintaan. Mas Dul … kopi kental gak pakai gula teriak satu orang karyawan penggemar kopi bikinan Dulah. Mulai jam 7 pagi sampai teng jam 5 sore tiada henti melayani semua karyawan. Hampir tidak ada waktu istirahat sejenak. Mulai dari menerima tamu, menyediakan minuman, membelikan makanan, disuruh fotocopy bahkan sampai mengambil uang di bank. Dan semua itu Dulah kerjakan dengan senang hati. Jam 11.30, Dulah mulai keliling menghampiri setiap meja sambil membawa kertas bekas dan pensil. Mencatat satu persatu pesanan makan siang. Tidak semua orang memberikan uang pas sesuai dengan makanan yang dipesan. Selesai beli makananu, uang kembalian pun disampaikan dengan pas sesuai pesanan. Bagaimana dengan jam pulang ? yup … Dulah pulang dari kantor gelombang terakhir, artinya bukan jam 5 tetapi jam 6 malam baru bisa pulang. Yang pasti setelah kondisi kantor sudah terlihat rapi. Tidak ada kertas berserakan, tidak ada gelas kotor di atas meja. Kalaupun ada yang ngelembur, sebelum pulang Dulah pasti menawarkan makanan atau minuman kepada mereka. Hari demi hari dilalui Dulah untuk memberikan pelayanan. Tiga hari ini Dulah tidak masuk kerja. Ruangan kecil tempat Dulah biasa kerja yang disebut pantry kelihatan kosong tapi semrawut. Gelas, piring, ceceran makanan ada dimana-mana. Tidak ada yang memfotocopy dokumen, tidak ada yang menbuatkan minuman, tidak ada yang disuruh ke bank, tidak ada yang dimintai tolong untuk mengambilkan kertas, atau teman bicara dan curhat di pantry. Intinya kondisi kantor bingung kalang kabut. Anehnya, semua karyawan tidak ada yang mengetahui kondisi Dulah. Tidak ada yang tahu dimana rumahnya. Mungkin ini salah satu ciri masyarakat yang dikatakan modern. Kehidupan metropolis yang individualis. Dulah sedang di rumah, menemani istrinya yang sakit keras. Merawat istri dan kedua anaknya, mencuci pakaian, membersihkan rumah kontrakan. Sudah tiga hari sakit istri Dulah tidak kunjung sembuh, obat flu yang dibeli di warung rupanya kurang manjur. Oleh tetangganya disarankan agar istri Dulah dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Dengan diantar Ketua RT yang baik hati, Dulah membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa. Opname, rawat inap begitu anjuran dokter yang memeriksanya. Karena tidak memiliki biaya, Dulah disarankan untuk mengurus kartu miskin agar istrinya bisa tetap dirawat. Dua hari, Dulah mondar mandir untuk mengurus kartu miskin. Kartu miskin ini merupakan program pemerintah melalui Departemen Kesehatan sebagai bentuk penyaluran dana kompensasi bahan bakar minyak (BBM). Ternyata kartu miskin yang sangat diharapkan oleh Dulah belum bisa keluar. Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Dulah hilang entah kemana. Sebelum mendapatkan status miskin, Dulah harus mengurus KTP terlebih dahulu. Biaya harus dikeluarkan jika KTP ingin sehari jadi. Untuk menjadi miskin ternyata tidak segampang yang saya bayangkan. Untuk menjadi miskin ternyata susah. Untuk menjadi miskin ternyata masih memerlukan biaya. Aneh … tatanan negara ini sudah aneh. Dulah memang miskin materi, tetapi Dulah adalah cermin manusia yang kaya akan kasih sayang, kesabaran Kontributor: Awal Moedzakir Awaludin@snsgroup.co.id -----------

Cerita islam

Ahmad Izzah Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. ‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, “Rabbi, waana’abduka…” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.” Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.” Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.” Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. ****************************************************** Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi…Abi…” Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang ba pak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam. “Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka. ******************************************************* Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai’tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh -puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya. Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah..” Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy. Benarlah firman Allah…”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30) Kontributor: Risdianto Risdianto@snsgroup.co.id -----------