Prince Saud Al Faisal at OIC meeting in Jeddah Arab Saudi Bantah Tuduhan Dukung ISIS di Irak
ARAB Saudi telah menolak tuduhan dari Perdana Menteri Irak Nouri Al-Maliki bahwa negara itu telah mendukung kelompok ISIS di Irak.
“Tuduhan itu tidak dari Irak namun dari Al-Maliki,” kata Pangeran Saud Al-Faisal dalam sebuah konferensi pers di Jeddah, pada sesi akhir pertemuan OKI pada hari Kamis (19/6/2014).
“Kami telah dengan tegas mengutuk Negara Islam Irak dan Al-Sham (ISIS) sebagai kelompok teroris,” kata Pangeran Saud. “ISIS tidak mewakili kehendak rakyat Irak.”
Menanggapi pertanyaan dari Arab News bahwa beberapa orang melihat peristiwa di Irak sebagai revolusi rakyat, Pangeran Saud Al-Faisal berkata “Kami tidak melihat ISIS sebagai revolusioner. Mereka menemukan ruang untuk beroperasi di Irak karena kebijakan pemerintah (Al-Maliki), yang membagi Irak, memperlakukan mereka tidak merata, ditundukkan dan menteror mereka. ”
Pangeran Saud mengatakan perdana menteri Irak terlibat dalam politik balas dendam dan berperilaku dengan cara diktator dengan mengkonsolidasikan kekuasaan di kantornya.
“ISIS adalah organisasi teror. ISIS bukan penyelamat, tapi perusak Irak,” kata Pangeran Saud.
sumber- islampos
Jumat, 20 Juni 2014
Menlu Julie Bishop: 150 Warga Australia Berjihad di Irak dan Suriah
CANBERRA, AUSTRALIA (voa-islam.com) - Sekitar 150 warga Australia telah berjihad bersama mujahidin di Suriah dan Irak sehingga meningkatkan kekhawatiran akan ancaman bagi Australia jika para mujahid itu kembali ke kampung halaman mereka, kata menteri luar negeri pada hari Kamis (19/6/2014).
Menteri Luar Negeri Julie Bishop mengatakan ia telah membatalkan sejumlah paspor atas saran dari badan-badan keamanan dalam upaya untuk mengurangi ancaman keamanan bagi Australia. Dia tidak mengatakan apakah paspor yang dibatalkan tersebut untuk mencegah warga Australia pergi atau kembali ke negara itu.
"Perkiraan terbaik kami adalah bahwa ada sekitar 150 warga Australia ... yang telah atau masih berjuang dengan kelompok-kelompok oposisi di Suriah dan di luar," kata Bishop kepada Australian Broadcasting Corp
Di Suriah, katanya tampaknya mereka telah pindah dari mendukung kelompok oposisi yang lebih moderat kepada yang lebih ekstrim dan itu termasuk kelompok ISIS, atau Negara Islam Irak dan Suriah Raya.
Duta Besar Irak untuk Australia, Mouayed Saleh, mengatakan bahwa warga Australia yang berjuang bersama ISIS harus dicabut kewarganegaraan mereka.
"Jika mereka bergabung dengan ISIS, tentu saja," kata Saleh. "Seluruh dunia ... tidak akan membiarkan orang untuk bergabung kepada kekuatan-kekuatan buas."
Dia menyambut baik keputusan Australia membatalkan paspor tersangka militan (baca;mujahid) dan mendesak pemerintah untuk tetap waspada. Dia tidak secara pribadi mengetahui adanya mujahid Australia di Irak.
Menteri Imigrasi Scott Morrison mengatakan pencabutan kewarganegaraan tidak bisa dikesampingkan. Dia mengatakan militan yang tinggal di Australia sebagai penduduk tetap bisa dapat dicabut visa mereka.
Polisi Australia telah mendakwa beberapa orang dalam beberapa bulan terakhir karena merekrut pejuang dan mendukung perjuangan bersenjata di Suriah. Beberapa orang telah dicegah meninggalkan Australia atas kecurigaan bahwa mereka berniat untuk berjihad.
"Kami prihatin bahwa warga Australia bekerja sama dengan mereka, menjadi radikal, mempelajari ketrampilan teroris dan jika mereka kembali ke Australia, tentu saja itu merupakan ancaman keamanan dan kami melakukan apa yang kami bisa untuk mengidentifikasi mereka," kata Bishop.
Perdana Menteri Tony Abbott mengatakan warga negara Australia yang diduga berjihad di Timur Tengah akan diawasi jika mereka kembali.
"Kami melipatgandakan kewaspadaan kita di perbatasan kami untuk mencoba untuk memastikan bahwa para jihadis tidak mendapatkan akses ke negara kita atau dipantau jika mereka memiliki hak akses ke negara ini," katanya.
"Saya tidak ingin orang berpikir ini hanyalah sebuah kesulitan dalam negara jauh yang tidak memiliki konsekuensi bagi dunia yang lebih luas," tambahnya. (st/Reuters)
sumber- See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/19/31047/menlu-julie-bishop-150-warga-australia-berjihad-di-irak-dan-suriah/#sthash.IZ7hetAU.dpuf
Menteri Luar Negeri Julie Bishop mengatakan ia telah membatalkan sejumlah paspor atas saran dari badan-badan keamanan dalam upaya untuk mengurangi ancaman keamanan bagi Australia. Dia tidak mengatakan apakah paspor yang dibatalkan tersebut untuk mencegah warga Australia pergi atau kembali ke negara itu.
"Perkiraan terbaik kami adalah bahwa ada sekitar 150 warga Australia ... yang telah atau masih berjuang dengan kelompok-kelompok oposisi di Suriah dan di luar," kata Bishop kepada Australian Broadcasting Corp
Di Suriah, katanya tampaknya mereka telah pindah dari mendukung kelompok oposisi yang lebih moderat kepada yang lebih ekstrim dan itu termasuk kelompok ISIS, atau Negara Islam Irak dan Suriah Raya.
Duta Besar Irak untuk Australia, Mouayed Saleh, mengatakan bahwa warga Australia yang berjuang bersama ISIS harus dicabut kewarganegaraan mereka.
"Jika mereka bergabung dengan ISIS, tentu saja," kata Saleh. "Seluruh dunia ... tidak akan membiarkan orang untuk bergabung kepada kekuatan-kekuatan buas."
Dia menyambut baik keputusan Australia membatalkan paspor tersangka militan (baca;mujahid) dan mendesak pemerintah untuk tetap waspada. Dia tidak secara pribadi mengetahui adanya mujahid Australia di Irak.
Menteri Imigrasi Scott Morrison mengatakan pencabutan kewarganegaraan tidak bisa dikesampingkan. Dia mengatakan militan yang tinggal di Australia sebagai penduduk tetap bisa dapat dicabut visa mereka.
Polisi Australia telah mendakwa beberapa orang dalam beberapa bulan terakhir karena merekrut pejuang dan mendukung perjuangan bersenjata di Suriah. Beberapa orang telah dicegah meninggalkan Australia atas kecurigaan bahwa mereka berniat untuk berjihad.
"Kami prihatin bahwa warga Australia bekerja sama dengan mereka, menjadi radikal, mempelajari ketrampilan teroris dan jika mereka kembali ke Australia, tentu saja itu merupakan ancaman keamanan dan kami melakukan apa yang kami bisa untuk mengidentifikasi mereka," kata Bishop.
Perdana Menteri Tony Abbott mengatakan warga negara Australia yang diduga berjihad di Timur Tengah akan diawasi jika mereka kembali.
"Kami melipatgandakan kewaspadaan kita di perbatasan kami untuk mencoba untuk memastikan bahwa para jihadis tidak mendapatkan akses ke negara kita atau dipantau jika mereka memiliki hak akses ke negara ini," katanya.
"Saya tidak ingin orang berpikir ini hanyalah sebuah kesulitan dalam negara jauh yang tidak memiliki konsekuensi bagi dunia yang lebih luas," tambahnya. (st/Reuters)
sumber- See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/19/31047/menlu-julie-bishop-150-warga-australia-berjihad-di-irak-dan-suriah/#sthash.IZ7hetAU.dpuf
ISIS Menguasai Pabrik Senjata Kimia di Munthanna, Irak
BAGDAD (voa-islam.com) - Para pejuang ISIS telah menguasai wilayah utara Baghdad dalam serangan yang sangat dahsyat, dan mengambil alih pusat pabrik senjata kimia Saddam Hussein, ujar seorang pejabat AS mengatakan Kamis,19/6/2014.
"Kami menyadari bahwa ISIS telah menduduki kompleks al-Muthanna," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki dalam sebuah pernyataan. Tapi, Psaki mengatakan tidak berpikir ISIS akan mampu memproduksi senjata kimia yang dapat digunakan dalam perang di Irak, karena bahan yang tersisa kedalu warsa’, ungkap Psaki.
Kompleks, terletak hanya 45 mil (72 kilometer) barat laut dari Baghdad, mulai memproduksi gas mustard dan saraf lainnya, termasuk Sarin, pada awal tahun 1980,semenjak Saddam Hussein berkuasa, ungkap pejabat CIA.
Program ini diperluas untuk puncaknya selama perang Iran-Irak yang berlangsung dekade lalu, dan menghasilkan 209 dan 394 ton Sarin pada tahun 1987 dan 1988. Namun CIA menulis bahwa fasilitas telah hancur setelah Perang Teluk pertama, ketika resolusi PBB “melarang Irak memproduksi senjata kimia."
Psaki mengatakan, "Kami tetap prihatin tentang direbutnya fasilitas pabrik senjata kimia oleh ISIS”, tambah Psaki. Namun, ia mengatakan, "kami tidak percaya bahwa kompleks senjata kimia milik militer itu bisa memproduksi senjata kimia, dan mustahil memindahkan material dengan aman."
Kepanikan terus melanda seluruh pejabat keamanan Barat, sejak jatuhnya kota Mosul, dan disusul dengan dikuasainya kilang minyak terbesar Irak, Bawaiji oleh pasukan ISIS. Sekarang ISIS semakin mendekati ibukota Bagdad. Obama sudah mengambil keputusan melakukan invasi militer ke Irak, mencegah menguasai ibukota Bagdad. (jj/aby/voa-islam.com)
sumber- See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/20/31067/isis-menguasai-pabrik-senjata-kimia-di-munthanna-irak/#sthash.J0hy6APK.dpuf
"Kami menyadari bahwa ISIS telah menduduki kompleks al-Muthanna," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki dalam sebuah pernyataan. Tapi, Psaki mengatakan tidak berpikir ISIS akan mampu memproduksi senjata kimia yang dapat digunakan dalam perang di Irak, karena bahan yang tersisa kedalu warsa’, ungkap Psaki.
Kompleks, terletak hanya 45 mil (72 kilometer) barat laut dari Baghdad, mulai memproduksi gas mustard dan saraf lainnya, termasuk Sarin, pada awal tahun 1980,semenjak Saddam Hussein berkuasa, ungkap pejabat CIA.
Program ini diperluas untuk puncaknya selama perang Iran-Irak yang berlangsung dekade lalu, dan menghasilkan 209 dan 394 ton Sarin pada tahun 1987 dan 1988. Namun CIA menulis bahwa fasilitas telah hancur setelah Perang Teluk pertama, ketika resolusi PBB “melarang Irak memproduksi senjata kimia."
Psaki mengatakan, "Kami tetap prihatin tentang direbutnya fasilitas pabrik senjata kimia oleh ISIS”, tambah Psaki. Namun, ia mengatakan, "kami tidak percaya bahwa kompleks senjata kimia milik militer itu bisa memproduksi senjata kimia, dan mustahil memindahkan material dengan aman."
Kepanikan terus melanda seluruh pejabat keamanan Barat, sejak jatuhnya kota Mosul, dan disusul dengan dikuasainya kilang minyak terbesar Irak, Bawaiji oleh pasukan ISIS. Sekarang ISIS semakin mendekati ibukota Bagdad. Obama sudah mengambil keputusan melakukan invasi militer ke Irak, mencegah menguasai ibukota Bagdad. (jj/aby/voa-islam.com)
sumber- See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/20/31067/isis-menguasai-pabrik-senjata-kimia-di-munthanna-irak/#sthash.J0hy6APK.dpuf
wikileaks segera bocorkan dokumen rahasia 50 negara. termasuk INDONESIA
NGGRIS (voa-islam.com) - Wikileaks, akun whistle blower yang dibesut Julian Assange ini akan segera mengungkapkan kepada publik soal dokumen rahasia terbaru yang menyangkut rahasia negara, termasuk penyadapan Indonesia oleh Australia.
Julian Assange hanya menyatakan, dokumen tersebut terkait dengan rahasia 50 negara, termasuk Kanada. Hal itu diungkapkan Assange saat berbincang dengan sejumlah jurnalis dari persembunyiannya di Kedutaan Besar Ekuador di Inggris, namun ia tidak dijelaskan tentang dokumen rahasia yang akan dibocorkan tersebut. Kelompok pendukung Assange menyatakan, dokumen rahasia terbaru tersebut akan dibocorkan pekan depan seperti dilansir time. Assange sudah bersembunyi di Kedutaan Besar Ekuador selama dua tahun.
Di tempat persembunyiannya itu, Assange mendapat penjagaan ketat terutama dari ancaman penyadapan. Bahkan, saking ketatnya Assange mengatakan, serangga pun tidak akan bisa masuk.
Assange juga menegaskan tidak berencana untuk pergi ke Swedia untuk memenuhi panggilan penyidik terkait dugaan pelecehaan seksual yang terjadi empat tahun lalu. Tim penyidik dari Swedia sudah menolak untuk memeriksa Assange di dalam Kedutaan Besar Ekuador di Inggris.
WikiLeaks membocorkan sejumlah dokumen rahasia beberapa negara termasuk penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Presiden SBY dan Ani Yudhoyono. Selain itu, WikiLeaks juga membocorkan penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara.
sumber - See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/21/31082/wikileaks-segera-bocorkan-dokumen-rahasia-50-negara-termasuk-indonesia/;#sthash.JPJRHFP5.dpuf
Julian Assange hanya menyatakan, dokumen tersebut terkait dengan rahasia 50 negara, termasuk Kanada. Hal itu diungkapkan Assange saat berbincang dengan sejumlah jurnalis dari persembunyiannya di Kedutaan Besar Ekuador di Inggris, namun ia tidak dijelaskan tentang dokumen rahasia yang akan dibocorkan tersebut. Kelompok pendukung Assange menyatakan, dokumen rahasia terbaru tersebut akan dibocorkan pekan depan seperti dilansir time. Assange sudah bersembunyi di Kedutaan Besar Ekuador selama dua tahun.
WikiLeaks membocorkan sejumlah dokumen rahasia beberapa negara termasuk penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Presiden SBY dan Ani Yudhoyono. Selain itu, WikiLeaks juga membocorkan penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara.
sumber - See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-news/2014/06/21/31082/wikileaks-segera-bocorkan-dokumen-rahasia-50-negara-termasuk-indonesia/;#sthash.JPJRHFP5.dpuf
Kamis, 12 Juni 2014
Kebohongan GLOBAL WARMING!!
di era modern, para konspirator melalui agen - agen elitnya, menyajikan isu tentang adanya ancaman global dibidang lingkungan. saat ini yang paling kentara iala gosip global warming .Isu ini dimaksudkan untuk menciptakan dan mengondisikan penduduk bumi untuk berupaya bersama-sama menjaga bumi ini dari kepunahan. Lebih tepatnya, diperlukan otoritas tunggal untuk mengatasi bencana global warming ini. Sementara di sisi lain diberlakukan pajak yang tinggi apabila terdapat usaha industri yang dapat merusak lingkungan, termasuk pajak kendaraan bermotor.
dalam buku Goddes Earth dijabarkan ringkas mengenai pemanasan global sebagai berikut: "teorinya ialah bahwa revolusi industri, beserta pembakaran bahan bakar fosil, menambah jumlah karbon dioksida kedalam atmosfer dan menyebabkan pemanasan global.
Namun , grafik-grafik temperatur lebih dari 100 hingga 150 tahun lalu pada saat manusia menemukan termometer tidak memberikan satu catatan temperatur apapun baik di Amerika Utara maupun Eropa Barat, yang berada di luar jangkauan variasi (suhu) normal. menurut Dr.Ray dan banyak ilmuan lainnya, tidak ada bukti apapun bahwa 7 ton milyar karbon dioksida hasil dari pembakaran bahan bakar fosil mengakibatkan gejala terhadap terjadinya pemanasan alamiah global. terlebih lagi, bahwa memang benar manusia menghasilkan 7 ton milyar karbon dioksida, alam ini sendiri justru menghasilkan 200 ton milyar karbon dioksida. kalau lah bumi ini menghangat dan mendingin, proses tersebut terjadi melalui proses alamiah tersendiri, diawali dengan aktivitas di matahari, yang selanjutnya mempengaruhi bumi.
dalam U.S minority Report: More than 700 International Scientists dissent Over man-made Global Warming Claims Scientiests Continue to debunk"Consensus" in 2008 & 2009 , disebutkan terdapat penolakan dari 700 ilmuan internasional mengenai GLOBAL WARMING yang melanda dunia ini. terlalu sering tuduhan dan tuntutan pemanasan global terjadi secara luas, faktanya bahwa pada saat bumi menghangat sedikit demi sedikit , jumlah karbon dioksida dalam atmosfer mengikuti dibelakang pemanasan tersebut. karbon dioksida tidak mendahului pemanasan bumi, jadi sangat tidak mungkin menjadi penyebab pemanasan global.
pun demikian, para politikus meyakini bahwa bumi memanas saat ini dan oleh sebab itu, sebuah international treaty on Climate change (pakta internasional terhadap perubahan cuaca) selanjutnya ditandatangani. Pakta ini mewajibkan semua negara mengontrol jumlah karbon dioksida yang dihasilkan kedalam atmosfer. Inilah alasan yang pemerintah sedang coba lilitkan kepada kita dengan suatu beban PAJAK ENERGI.
(sebuah pajak yang diberlakukan terhadap karbon dioksida atau pengeluaran karbon sejenis, yang akan memberikan imbas negatif yang tentunya menghancurkan ekonomi kita. kini kita mengerti tidak ada global warming seperti yang digembor-gemborkan media dan politikus, yang ada hanya lah upaya PUNGUTAN PAJAK GLOBAL yang dibebankan oleh korporasi kepada penduduk bumi yang menghasilkan CO2 berlebihan.
pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh international Climate Change Conference yang disponsori oleh heartland Institute di Chicago pada bulan mei 2012 seperti dilaporkan oleh majalah forbes. konferensi ini menampilkan sains alamiah serius, bertolak belakang dengan sains berdasarkan kepentingan politik yang sering anda dengar dari pemerintah yang mendanai para galauers global warming yang selalu saja mencari cari pembenaran terhadap pengembangan aturan - aturan dan kuasa-kuasa pajak demi kepentingan badan-badan pemerintah apapun serupa badan pemerintah semisal PBB.
oleh jagad a. purbawati
dalam buku Goddes Earth dijabarkan ringkas mengenai pemanasan global sebagai berikut: "teorinya ialah bahwa revolusi industri, beserta pembakaran bahan bakar fosil, menambah jumlah karbon dioksida kedalam atmosfer dan menyebabkan pemanasan global.
Namun , grafik-grafik temperatur lebih dari 100 hingga 150 tahun lalu pada saat manusia menemukan termometer tidak memberikan satu catatan temperatur apapun baik di Amerika Utara maupun Eropa Barat, yang berada di luar jangkauan variasi (suhu) normal. menurut Dr.Ray dan banyak ilmuan lainnya, tidak ada bukti apapun bahwa 7 ton milyar karbon dioksida hasil dari pembakaran bahan bakar fosil mengakibatkan gejala terhadap terjadinya pemanasan alamiah global. terlebih lagi, bahwa memang benar manusia menghasilkan 7 ton milyar karbon dioksida, alam ini sendiri justru menghasilkan 200 ton milyar karbon dioksida. kalau lah bumi ini menghangat dan mendingin, proses tersebut terjadi melalui proses alamiah tersendiri, diawali dengan aktivitas di matahari, yang selanjutnya mempengaruhi bumi.
dalam U.S minority Report: More than 700 International Scientists dissent Over man-made Global Warming Claims Scientiests Continue to debunk"Consensus" in 2008 & 2009 , disebutkan terdapat penolakan dari 700 ilmuan internasional mengenai GLOBAL WARMING yang melanda dunia ini. terlalu sering tuduhan dan tuntutan pemanasan global terjadi secara luas, faktanya bahwa pada saat bumi menghangat sedikit demi sedikit , jumlah karbon dioksida dalam atmosfer mengikuti dibelakang pemanasan tersebut. karbon dioksida tidak mendahului pemanasan bumi, jadi sangat tidak mungkin menjadi penyebab pemanasan global.
pun demikian, para politikus meyakini bahwa bumi memanas saat ini dan oleh sebab itu, sebuah international treaty on Climate change (pakta internasional terhadap perubahan cuaca) selanjutnya ditandatangani. Pakta ini mewajibkan semua negara mengontrol jumlah karbon dioksida yang dihasilkan kedalam atmosfer. Inilah alasan yang pemerintah sedang coba lilitkan kepada kita dengan suatu beban PAJAK ENERGI.
(sebuah pajak yang diberlakukan terhadap karbon dioksida atau pengeluaran karbon sejenis, yang akan memberikan imbas negatif yang tentunya menghancurkan ekonomi kita. kini kita mengerti tidak ada global warming seperti yang digembor-gemborkan media dan politikus, yang ada hanya lah upaya PUNGUTAN PAJAK GLOBAL yang dibebankan oleh korporasi kepada penduduk bumi yang menghasilkan CO2 berlebihan.
pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh international Climate Change Conference yang disponsori oleh heartland Institute di Chicago pada bulan mei 2012 seperti dilaporkan oleh majalah forbes. konferensi ini menampilkan sains alamiah serius, bertolak belakang dengan sains berdasarkan kepentingan politik yang sering anda dengar dari pemerintah yang mendanai para galauers global warming yang selalu saja mencari cari pembenaran terhadap pengembangan aturan - aturan dan kuasa-kuasa pajak demi kepentingan badan-badan pemerintah apapun serupa badan pemerintah semisal PBB.
oleh jagad a. purbawati
Rabu, 11 Juni 2014
BuyaHamka4 Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah
Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah
Selasa 14 Jamadilawal 1434 / 26 Maret 2013 08:14
Oleh: Zulkarnain Khidir
Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.
Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?
Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.
Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:
“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.
Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.
Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya.Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.
Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.
Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).
Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.
Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!
Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.
Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!
Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.
Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.
Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.
Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.
Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Ummat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.
Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.
Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari SUmmatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari SUmmatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!
Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”
Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”
Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:
“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”
“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”
“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”
Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika Ummat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya Ummat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam
Selasa 14 Jamadilawal 1434 / 26 Maret 2013 08:14
Oleh: Zulkarnain Khidir
Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.
Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?
Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.
Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:
“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.
Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.
Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya.Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.
Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.
Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).
Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.
Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!
Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.
Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!
Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.
Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.
Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.
Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.
Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Ummat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.
Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.
Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari SUmmatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari SUmmatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!
Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”
Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”
Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:
“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”
“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”
“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”
Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika Ummat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya Ummat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam
Hukum Merayakan Peringatan Isra’ Mi’raj
Hukum Merayakan Peringatan Isra’ Mi’raj
by mahad · May 24, 2014
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang al-amin (yang terpercaya) dan memiliki sifat amanah. Dengan sifat inilah, beliau telah menyampaikan seluruh risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala kepada umat ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali pasti telah beliau ajarkan kepada umatnya. Dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali pasti telah beliau peringatkan dan beliau larang umatnya untuk mengerjakannya.
Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj itu bagian dari risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala, pasti beliau telah ajarkan kepada umatnya. Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj ini amalan yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya adalah orang-orang pertama yang mengadakan acara tersebut. Demikian pula para ulama generasi berikutnya yang mengikuti dan meneladani mereka, semuanya akan mengadakan perayaan-perayaan khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sehingga acara peringatan Isra’ Mi’raj, dalam bentuk apapun acara tersebut dikemas, merupakan amalan bid’ah, sebuah kemungkaran, dan perbuatan maksiat karena:
1.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya atau memerintahkan kepada umatnya untuk merayakannya.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (syari’at) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
1.Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah pula merayakannya. Demikian pula para tabi’in, seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri, dan yang lainnya rahimahumullah.
2.Para ulama yang datang setelah mereka, baik itu imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad), Al-Bukhari, Muslim, An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dan yang lainnya rahimahumullah, hingga para ulama zaman sekarang ini. Mereka semua tidak pernah merayakannya, apalagi menganjurkan dan mengajak kaum muslimin untuk mengadakan peringatan itu. Tidak didapati satu kalimat pun dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan disyari’atkannya peringatan Isra’ Mi’raj.
3.Kenyataan yang terjadi jika perayaan ini benar-benar diadakan, yaitu munculnya berbagai kemungkaran, di antaranya: 1.Terjadinya ikhtilath, yaitu bercampurbaurnya antara laki-laki dan perempuan.
2.Dilantunkannya shalawat-shalawat yang bid’ah dan bahkan sebagiannya mengandung kesyirikan.
3.Didendangkannya lagu-lagu dan alat musik yang jelas haram hukumnya.
4.Mengganggu kaum muslimin. Di antara bentuk gangguan itu adalah:
Terhalanginya pemakai jalan atau minimalnya mereka kesulitan ketika hendak melewati jalan di sekitar lokasi acara, karena banyaknya orang disana.
Suara musik dan lagu yang sangat keras pada acara terebut, juga mengganggu tetangga dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara. Orang yang telah lanjut usia, orang sakit, maupun bayi-bayi dan anak-anak kecil yang semestinya membutuhkan ketenangan, mereka terganggu dengan adanya suara musik yang sangat keras tadi.
Tidak semestinya beberapa gangguan tadi dianggap sepele dan ringan. Kecil maupun besar, setiap perbuatan yang bisa mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka pelakunya terkenai ancaman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk al-jannah orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)
1.Tidak sedikit kaum muslimin yang melalaikan shalat berjama’ah di masjid, bahkan yang lebih parah kalau sampai meninggalkan shalat fardhu. Ketika acara dimulai ba’da shalat Isya’ misalnya, sejak sore banyak yang sudah stand by di tempat acara. Mulai dari penjual-penjual dengan aneka barang dagangannya, pengunjung acara, sampai panitia acara pun, mereka lebih memilih berada di ‘pos-pos’ mereka daripada masjid ketika dikumandangkannya adzan maghrib dan isya’. Wal ‘iyadzubillah.
Semestinya umat ini dibimbing untuk kembali kepada agamanya. Mereka sangat antusias menyambut dan menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj, namun mereka belum memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dan mu’jizat besar yang saat itulah kewajiban shalatlimawaktu ini diberlakukan kepada umat Islam. Suatu musibah jika salah satu rukun Islam ini dilalaikan hanya karena ingin ‘menyukseskan’ acara yang sudah pasti menelan biaya yang tidak sedikit tersebut.
Kalau masih ada yang beranggapan bahwa perayaan untuk memperingati Isra’ Mi’raj itu adalah baik, maka katakanlah sebagaimana kata Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah:
مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ ؛ لأَن اللهَ يقولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا
“Barangsiapa yang mengadaka-adakan kebid’ahan dalam agama Islam ini, dan dia memandang itu baik, maka sungguh dia telah menyatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian), maka segala sesuatu yang pada hari (ketika ayat ini diturunkan) itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun juga bukan bagian dari agama.”
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala hidayah untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai akhir hayat nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Suka
by mahad · May 24, 2014
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang al-amin (yang terpercaya) dan memiliki sifat amanah. Dengan sifat inilah, beliau telah menyampaikan seluruh risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala kepada umat ini dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali pasti telah beliau ajarkan kepada umatnya. Dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali pasti telah beliau peringatkan dan beliau larang umatnya untuk mengerjakannya.
Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj itu bagian dari risalah dan syari’at Allah subhanahu wata’ala, pasti beliau telah ajarkan kepada umatnya. Kalau seandainya peringatan Isra’ Mi’raj ini amalan yang baik, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya adalah orang-orang pertama yang mengadakan acara tersebut. Demikian pula para ulama generasi berikutnya yang mengikuti dan meneladani mereka, semuanya akan mengadakan perayaan-perayaan khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sehingga acara peringatan Isra’ Mi’raj, dalam bentuk apapun acara tersebut dikemas, merupakan amalan bid’ah, sebuah kemungkaran, dan perbuatan maksiat karena:
1.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah merayakannya atau memerintahkan kepada umatnya untuk merayakannya.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (syari’at) kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
1.Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah pula merayakannya. Demikian pula para tabi’in, seperti Sa’id bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri, dan yang lainnya rahimahumullah.
2.Para ulama yang datang setelah mereka, baik itu imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad), Al-Bukhari, Muslim, An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dan yang lainnya rahimahumullah, hingga para ulama zaman sekarang ini. Mereka semua tidak pernah merayakannya, apalagi menganjurkan dan mengajak kaum muslimin untuk mengadakan peringatan itu. Tidak didapati satu kalimat pun dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan disyari’atkannya peringatan Isra’ Mi’raj.
3.Kenyataan yang terjadi jika perayaan ini benar-benar diadakan, yaitu munculnya berbagai kemungkaran, di antaranya: 1.Terjadinya ikhtilath, yaitu bercampurbaurnya antara laki-laki dan perempuan.
2.Dilantunkannya shalawat-shalawat yang bid’ah dan bahkan sebagiannya mengandung kesyirikan.
3.Didendangkannya lagu-lagu dan alat musik yang jelas haram hukumnya.
4.Mengganggu kaum muslimin. Di antara bentuk gangguan itu adalah:
Terhalanginya pemakai jalan atau minimalnya mereka kesulitan ketika hendak melewati jalan di sekitar lokasi acara, karena banyaknya orang disana.
Suara musik dan lagu yang sangat keras pada acara terebut, juga mengganggu tetangga dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi acara. Orang yang telah lanjut usia, orang sakit, maupun bayi-bayi dan anak-anak kecil yang semestinya membutuhkan ketenangan, mereka terganggu dengan adanya suara musik yang sangat keras tadi.
Tidak semestinya beberapa gangguan tadi dianggap sepele dan ringan. Kecil maupun besar, setiap perbuatan yang bisa mengganggu dan menyakiti kaum muslimin, maka pelakunya terkenai ancaman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk al-jannah orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)
1.Tidak sedikit kaum muslimin yang melalaikan shalat berjama’ah di masjid, bahkan yang lebih parah kalau sampai meninggalkan shalat fardhu. Ketika acara dimulai ba’da shalat Isya’ misalnya, sejak sore banyak yang sudah stand by di tempat acara. Mulai dari penjual-penjual dengan aneka barang dagangannya, pengunjung acara, sampai panitia acara pun, mereka lebih memilih berada di ‘pos-pos’ mereka daripada masjid ketika dikumandangkannya adzan maghrib dan isya’. Wal ‘iyadzubillah.
Semestinya umat ini dibimbing untuk kembali kepada agamanya. Mereka sangat antusias menyambut dan menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj, namun mereka belum memahami hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sebuah peristiwa dan mu’jizat besar yang saat itulah kewajiban shalatlimawaktu ini diberlakukan kepada umat Islam. Suatu musibah jika salah satu rukun Islam ini dilalaikan hanya karena ingin ‘menyukseskan’ acara yang sudah pasti menelan biaya yang tidak sedikit tersebut.
Kalau masih ada yang beranggapan bahwa perayaan untuk memperingati Isra’ Mi’raj itu adalah baik, maka katakanlah sebagaimana kata Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah:
مَن ابْتَدَعَ في الإِسلام بدعة يَراها حَسَنة ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحمّدا – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- خانَ الرّسالةَ ؛ لأَن اللهَ يقولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لَم يَكُنْ يَوْمَئذ دينا فَلا يكُونُ اليَوْمَ دينا
“Barangsiapa yang mengadaka-adakan kebid’ahan dalam agama Islam ini, dan dia memandang itu baik, maka sungguh dia telah menyatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian), maka segala sesuatu yang pada hari (ketika ayat ini diturunkan) itu bukan bagian dari agama, maka pada hari ini pun juga bukan bagian dari agama.”
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala hidayah untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai akhir hayat nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Suka
Langganan:
Postingan (Atom)

