Rabu, 04 Maret 2015

benarkah kencing sambil berdiri?

Umumnya, pria buang air kecil dengan posisi berdiri sementara wanita dengan posisi jongkok. Dan pada umumnya tempat kencing di Mall, di Kantor, Bandara, Stasiun, dan tempat umum lainnya menyediakan tempat kencing yang didesign untuk berdiri, benarkan? Terus, tahukah kamu bahaya dari kencing berdiri ini?



 Kencing atau bahasa halusnya buang air seni ini
sudah bukan suatu hal yang asing lagi bagi umat manusia. Setiap manusia melakukan aktivitas ini untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh (mengeluarkan kotoran tubuh). Dalam melakukan aktivitas inipun kita dituntut melakukannya dengan benar dan sesuai aturan.
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ”anha, di mana beliau berkata,“Siapa yang bilang bahwa Rasulullah SAW kencing sambil berdiri, jangan dibenarkan. Beliau tidak pernah kencing sambil berdiri.”
  • Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah kencing sambil berdiri semenjak diturunkan kepadanya Al-Quran.
Secara medis kencing berdiri adalah penyebab utama penyakit kencing batu pada semua penderita penyakit tersebut dan merupakan salah satu penyebab penyakit lemah syahwat bagi sebagian pria.
Secara agama, kebanyakan orang yang biasanya kencing berdiri kemudian mereka akan mendirikan shalat, ketika akan ruku’ atau sujud maka terasa ada sesuatu yang keluar dari kemaluannya, itulah sisa air kencing yang tidak habis terpencar ketika kencing sambil berdiri, apabila hal ini terjadi maka shalat yang dikerjakannya tidak sah karena air kencing adalah najis dan salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats kecil maupun hadats besar.
Umumnya kita memandang ringan terhadap cara dan tempat buang air, mungkin karena pertimbangan waktu atau situasi dan kondisi yang mengharuskan (terpaksa) untuk kencing berdiri tanpa menyangka keburukannya dari sisi sunnah dan kesehatan. Orang dulu mempunyai budaya melarang anak kencing berdiri sehingga kita sering mendengar pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, karena memang terdapat efek negatif dari kencing berdiri.
Kebiasaan orang kencing berdiri akan mudah lemah bathin, karena sisa-sisa air dalam pundit-pundi yang tidak habis terpancar menjadikan kelenjar otot-otot dan urat halus sekitar zakar menjadi lembek dan kendur. Berbeda dengan buang air jongkok, dalam keadaan bertinggung tulang paha di kiri dan kanan merenggangkan himpitan buah zakar. Ini memudahkan air kencing mudah mengalir habis dan memudahkan untuk menekan pangkal buah zakar sambil berdehem-dehem. Dengan cara ini, air kencing akan keluar hingga habis, malahan dengan cara ini kekuatan sekitar otot zakar terpelihara.
Ketika buang air kencing berdiri ada rasa tidak puas, karena masih ada sisa air dalam kantong dan telur zakar di bawah batang zakar. Ia berkemungkinan besar menyebabkan kencing batu. Kenyataan membuktikan bahwa batu karang yang berada dalam ginjal atau kantong seni dan telur zakar adalah disebabkan oleh sisa-sisa air kencing yang tak habis terpencar. Endapan demi endapan akhirnya mengkristal/mengeras seperti batu karang.
Jika anda biasa meneliti sisa air kencing yang tak dibersihkan dalam kamar mandi, anda bayangkan betapa keras kerak-keraknya. Bagaimana jika itu ada di kantong kemaluan Anda?? Hal ini juga merupakan salah satu yang menyebabkan penyakit lemah syahwat pada pria selain dari penyebab kencing batu.
  • Sesungguhnya banyak siksa kubur dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi)
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah kuburan dan yang satunya lagi pada kuburan yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan siksanya, selama belum kering. (Shahih Muslim No.439)
Demikian hikmahnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam melarang kencing berdiri. Dan bagi muslim yang shalat, kadang setelah keluar dari WC dan mau shalat, ketika ruku’ dalam shalat kita merasa ada sesuatu yang keluar dari kemaluan, itu adalah sisa air kencing yang tidak habis terpencar akibat dari kencing berdiri yang tidak tuntas keluar, hal ini menyebabkan shalat tidak sah karena salah satu sarat sahnya shalat adalah bersih dan suci dari najis baik hadats kecil maupun hadats besar, dan air kencing merupakan najis.
Sehingga Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam sering mengingatkan dalam sabdanya: “Hati-hatilah dalam masalah kencing karena kebanyakan siksa kubur dikarenakan tidak berhati-hati dalam kencing”.
  1. Buang air jongkok (tidak berdiri jika tidak terpaksa/darurat). Agar kotoran bisa keluar tuntas sehingga tidak menjadi penyebab kencing batu maupun lemah syahwat.
  2. Menggunakan alas kaki. Menurut penelitian di Amerika di dalam kamar mandi/WC ada sejenis virus dengan type Americanus yang masuk lewat telapak kaki orang yang ada di WC tersebut. Dengan proses waktu yang panjang virus tersebut naik ke atas tubuh dan ke kepala merusak jaringan otak yang menyebabkna otak lemah tak mampu lagi mengingat, blank semua memori otak sehingga pikun. Sandal hendaknya diletakkan di luar WC, jangan di dalam WC, karena semakin kotor, lembab dan tak mengenai sasaran kebesihan.
  3. Masuk kamar mandi/WC dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. Inilah sunnah yang diperintahkan oleh Nabi, dan juga disunnahkan untuk membaca doa sebelum masuk kamar mandi (doa dibaca di luar kamar mandi) dan setelah keluar dari kamar mandi. Berbeda jika kita masuk masjid dan rumah, masuk masjid atau rumah dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri.
  4. Beristinja’ dengan air dan dengan tangan kiri.
  5. Beristinja’ (bersuci dan membersihkan kotoran) dengan air, bukan dengan tissue atau lainnya kecuali jika tidak ditemukan air ketika dihutan, padang pasir dsb. Boleh gunakan tissue tapi harus dibilas lagi dengan air setelahnya. Syarat kebersihan dan kesucian dari najis menurut syariat adalah hilang warna, hilang bau, dan hilang rasa dari najis tersebut. Beristinja’ juga disunnahkan dengan tangan kiri, inilah pembagian tugas dari tangan, bagaimana tangan kiri untuk urusan ‘belakang’ sedangkan untuk makan & minum disunnahkan dengan tangan kanan, jangan dicampuradukkaan, tangan yang untuk urusan belakang itu juga untuk makan. Dan Nabi melarang makan & minum dengan tangan kiri.
  6. Jangan merancang/merencanakan sesuatu di WC. Nabi sangat melarang merencanakan atau membuat suatu rencana/ide/inspirasi di dalam WC, karena WC adalah markaznya syetan sebagaimana doa kita ketika hendak masuk WC: “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits”, Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki maupun perempuan”. Karena dikhawatirkan rencana/ide/inspirasi yang didapat berasal dari bisikan syetan yang kelihatannya baik tapi setelah dijalankan ternyata banyak mudharat/keburukannya. Begitu juga setelah keluar WC, baca istighfar dan doa keluar WC. Secara adab dan budaya pun sangat tidak baik, masa sambil buang kotoran mencari ide/inspirasi atau merencanakan sesuatu yang baik apalagi sesuatu itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Disunnahkan juga untuk menyegerakan keluar WC apabila hajat sudah selesai, bukan malah bernyanyi-nyanyi apalagi sambil baca buku atau Koran.
  7. Ketika buang air dilarang menghadap atau membelakangi qiblat, apabila lubang WC menghadap qiblat hendaknnya ketika buang air badan agak diserongkan sedikit
Apabila sunnah diamalkan walaupun dalam kamar mandi maka kita ini juga namanya ibadah. Betapa sayangnya setiap hari kita ke kamar mandi beberapa kali tapi tidak mendapatkan pahala ibadah dengan menghidupkan sunnah. Padahal salah satu maksud dan tujuan manusia diciptakan adalah untuk ibadah.
Maka ada baiknya kita belajar adab-adab dan sunnah-sunnah di kamar mandi (WC) berikut agar kita banyak mendapatkan manfaat baik di dunia (kesehatan) maupun di akhirat (agama) yang telah diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

Minggu, 01 Maret 2015

SUBLIMAL MESSAGE


MUNGKIN tidak banyak yang mengetahui apa itu subliminnal message, karena istilah ini memang jarang diucapkan atau dibahas dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya subliminal mesasage adalah suatu pesan yang diselipkan pada sebuah objek untuk mempengaruhi pola pikir audience (dalam pengaruh alam bawah sadar). Subliminnal message ini biasa digunakan dalam dunia periklanan (advertising) atau digunakan dalam dunia politik sebagai bahan propaganda.





Subliminal Messages, Pengaruh, Dan Contohnya
Dari segi teoritis, subliminal message berarti sinyal atau pesan yang digabungkan dengan objek lain, didesain sedemikian rupa untuk melewati batas normal persepsi kita. Pesan ini tidak dapat ditangkap oleh alam sadar kita tetapi dalam beberapa situasi dapat memengaruhi alam bawah sadar atau alam terdalam kita untuk menciptakan sebuah aksi atau sikap seseorang, pesan-pesan sengaja dibuat tidak terlalu jelas atau tidak kita sadari pada saat pertama kali melihatnya.
Pesan-pesan tersebut akan terekam di dalam otak kita dan akan bekerja seperti hipnotis, pengaruh yang ditimbulkan oleh pesan-pesan tersebut bisa berakibat positif maupun negatif tergantung pesan yang disembunyikan, apakah itu bernada positif atau negatif, dan saya tambahkan sedikit dari situs wikipedia : bahwa subliminal tehnik ini telah banyak dipergunakan dalam iklan dan propaganda. Tujuan, efektifitas dan frekuensi atas tehnik tersebut masih diperdebatkan hingga sekarang.
Contoh kasat mata subliminnal message yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari yaitu, alasan kenapa SPG seksi selalu ada pada produk mobil dan rokok. Itu karena produk tersebut ingin mengasosiasikan wanita seksi dengan produknya sehingga seakan-akan jika kita merokok dan mengendarai mobil mewah maka perempuan-perempuan seksi akan tertarik.
Contoh subliminal messages yang lebih luas bisa ditemukan dalam film kartun Disneyland. Di dalam satu bagian film ‘Lion King’ digambarkan Simba yang sedang merenung di pinggir tebing dengan debu-debu beterbangan di langit malam. Tidak ada yang aneh dari adegan tersebut? Ya. Tapi jika kita perhatikan secara seksama, debu-debu yang beterbangan akan terlihat membentuk sebuah kata yang singkat tapi mencengangkan: ‘Sex’. Bukan hanya itu, kata ‘sex’ juga ditemukan di banyak adegan dalam film tersebut.
Ini adalah citra bawah sadar yang terang-terangan, Menyembunyikan kata seks dalam gambar mungkin adalah salah satu bentuk yang paling umum periklanan.

Citra bawah sadar atau gambar yang tersirat dalam periklanan mungkin tidak ilegal di Amerika, tapi lain halnya di negara – negara lain.
“Subliminal Message” ini mampu menyuruh seseorang atau mampu memberikan instruksi yang kemudian dilakukan oleh orang tersebut, tanpa yang bersangkutan sadar dirinya sedang disuruh. Melihat definisi praktis ini, penulis mengkhawatirkan bahwa hal ini “Subliminal Message” termasuk sihir.
Sihir, sebagaimana kita ketahui, merupakan sebuah tindakan memanipulasi seseorang sehingga ia mengalami sesuatu, atau melakukan sesuatu, atau membenci sesuatu, atau menyukai sesuatu, tanpa kemauan atau kesadarannya.
“Subliminal Message” dilakukan bukan dengan mantra atau sesajen sebagaimana sihir, namun dengan teknik-teknik psikologi rekayasa dan manipulasi atau apapun namanya yang pada dasarnya memanfaatkan teknik-teknik memanipulasi kesadaran. Aktifitas ini dapat dimasukkan ke dalam “mind control” atau pengendalian pikiran di mana di dalamnya termasuk “brainwashing” (cuci otak), “hypnotizing” (hipnotis), sihir, dan lain sebagainya. Seringkali kita tak dapat menarik garis batas yang jelas antara satu sama lain.
Dalam Islam, sihir dan yang sejenisnya haram bahkan pelakunya adalah musyrik. Dukun-dukun sihir termasuk katagori “thaghut” kemusyrikan dan tentu saja sudah dianggap keluar dari Islam alias kafir.
Lebih jauh dapat kita lihat bahwa keseluruhan aktifitasmind control ini adalah aktifitas yang termasuk katagori’menghilangkan akal’ sebagaimana narkoba dan minuman keras (khamr).
Subliminal Message Sebagai Mind Control
Pada tahun 1949, George Orwell, seorang novelis menulis karyanya yang cukup monumental yaitu “1984”. Dalam novel tersebut Orwell menggambarkan (atau memperingatkan) bahwa kelak pada tahun 1984 ada sebuah negara yang sedemikian rupa merampas kebebasan rakyatnya hingga melakukan pengintaian warga dan pengendalian massa lewat media dan propaganda. Ketika novel tersebut ditulis, orang memahami bahwa itulah yang dilakukan oleh negara-negara komunis terhadap rakyatnya.

 perhatikan gambar dibawah ini mengandung kalimat sex didalamnya

 Namun kini, tampaknya bahkan hal tersebut terjadi di negara “bebas” bernama Amerika. Steven Jacobson, penulis buku Mind Control in the United States, adalah teknisi film berpengalaman dalam teknik“Subliminal Message” yang digunakan dalam media komunikasi. Ia mengungkapkan betapa masalah mind control ini sungguh sangat mengkhawatirkan, sebab menurut dia teknik ini sangat kuat pengaruhnya, sangat efektif dan lebih mengerikan lagi, tidak disadari oleh yang menjadi korban atau obyeknya. Ia juga mengkhawatirkan penggunaan teknik ini menjadi liar tak terkendali sebab selain pihak otoritas belum memberikan aturannya, juga bahkan teknik ini tidak banyak diketahui selain oleh insan-insan media dan para pemerhatinya.
Di Amerika Serikat lewat internet ada sedikit geliat usaha untuk berusaha menyembunyikan atau ‘mengkaburkan kenyataan tentang betapa efektifnya teknik ini’, namun sebagaimana sifat dunia maya, pro dan kontra tidak terbendung masuk ke jalur diskusi, dan pada akhirnya kita dapat menarik kesimpulan sendiri bahwa ternyata ke-efektif-annya. Diskusi dapat dengan kita lihat dari berbagai komen di blog-blog dan situs-situsyang membicarakannya. Dan kita bahkan dapat menemukan para penjual konten-konten “Subliminal Message” ini untuk kepentingan komersial yang ditujukan bagi para pengguna pribadi maupun lembaga atau perusahaan yang mau menggunakannya. Kelompok seperti ini adalah kelompok yang jelas dan tegas menguraikan betapa efektifnya cara ini

sumber : islam pos

Sabtu, 31 Januari 2015

Adzan Ditengah Penyambutan Obama, Raja Saudi Salman Hentikan Protokelar dan Pamit Sholat

Presiden AS Barack Obama memimpin sebuah delegasi legislator, pejabat senior dan dua mantan menteri luar negeri AS ke Arab Saudi, hari Selasa (27/1), untuk menyampaikan penghormatan dan belasungkawa kepada keluarga kerajaan, menyusul wafatnya Raja Abdullah.

Kedatangan Presiden America Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama serta rombongan disambut raja baru Saudi, Salman bin Abdul-Aziz Al Saud setibanya di bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

Ditengah seremonial penyambutan kenegaraan ini, ada kejadian yang sangat menarik. Ketika Adzan Ashar berkumandang Raja menghentikan protokoler penyambutan dan meminta izin pada tamu (Obama) untuk menunaikan shalat terlebih dahulu. Kejadian tersebut disaksikan jutaan rakyat melalui siaran televisi secara langsung. Obama sempet bengong ditinggal tuan rumah.
Peristiwa tersebut memunculkan komentar positif dengan per
asaan bangga dan hormat karena menempatkan shalat dalam prioritasnya.
Anggota dewan fatwa provinsi Qashim Dr Kholid al-Mushlih mengatakan : “Bahwa apa yang dilakukan oleh pelayan dua tanah suci Raja Salman bin Abdulaziz hari ini dengan mengutamakan shalat dan melaksanakannya di tengah-tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama merupakan bukti rasa hormat terhadap hukum Islam dalam segala situasi”.

Beliau juga menjelaskan bahwa sikap Raja Salman memberi
kan pesan kepada semua, bahwa hak Allah berada diatas hak apapun dan siapapun, dan sikap ini memberikan jaminan dan ketenangan bahwa pemimpin kami sangat perhatian terhadap syariat islam walaupun dalam kondisi dan keadaan apapun.

(sabq.org/ almowaten.net/manhajuna.com)

Minggu, 31 Agustus 2014

Mengapa Enggan Untuk Merapatkan Shaf?

shaf-ala-salafi-wahabiHampir setiap kali menunaikan salat berjamaah kita mendengar imam salat mengatakan, “Rapatkan dan luruskan barisan!”; “Luruskan dan rapatkan barisan, karena rapat dan lurusnya barisan merupakan kesempurnaan salat!” atau kata-kata senada yang kurang lebih maknanya sama. Namun, pada kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang tidak mendengar dan tidak mau mematuhi ajakan imam untuk meluruskan dan merapatkan barisan.
Sering kali kita dapati para makmum tidak memedulikan masalah meluruskan barisan, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, telapak kaki membentuk huruf V sehingga mustahil bisa rapat satu sama lain, ataupun kaki-kaki mereka tidak bersentuhan dengan saudaranya yang ada di sampingnya, tidak peduli lagi akan lurus dan rapatnya barisan salat berjamaah. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang apabila ada orang yang merapat, malah semakin menjauh dan marah karena didekati saudaranya sesama umat Islam. Padahal kaum muslimin adalah bersaudara yang diperintah agar merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

MENGAPA TIDAK MAU MERAPAT ?
Apabila kita mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri ataupun pada saudara kita sesama umat Islam, maka kita akan mendapati jawaban yang bermacam-macam. Pada kesempatan kali ini, kami sebutkan beberapa alasan dengan disertai solusi atau jawabannya.
Merapatkan Shaf Dapat Menghilangkan/Mengurangi Kekhusyu’an?!
Sesungguhnya tidak menaati perintah-perintah Allah dan Nabi-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan sebab terhalangnya seseorang dari mendapatkan hidayah,khusyu’, dan tuma’ninah, bukan malah sebaliknya.

Terkadang memang timbul rasa was-was pada waktu pertama kali merapatkan shaf sebagaimana yang diperintahkan, dan hal ini jelas datangnya dari setan, agar kita tidak meluruskan dan merapatkan barisan shaf dalam shalat berjamaah. Hal ini karena belum terbiasa, dan kesulitan penyesuaian dalam setiap awal suatu perbuatan adalah suatu hal yang biasa dan wajar. Hal itu akan hilang dengan sendirinya setelah adanya kebulatan tekad dan pelaksanaan secara istiqamah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti barisannya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. (Shahih, HR. Abu Dawud no. 666)
Hadis ini sangat gamblang menjelaskan kepada kita bahwa umat Islam diperintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah, renggangnya barisan jamaah merupakan celah bagi setan untuk menggoda orang-orang yang sedang salat.

Tidak Mengetahui Wajibnya Merapatkan dan Meluruskan Barisan ketika Salat Berjamaah
Akibat dari ketidaktahuan kaum muslimin akan wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan ketika shalat berjamaah, banyak kita jumpai kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan tidak rapat dan lurusnya barisan dalam salat berjamaah. Di antara kesalahan-kesalahan tersebut, yaitu:
  • banyak jamaah pergi ke masjid dengan membawa sajadah yang lebih lebar dari badannya dan terkesan tidak boleh diinjak jamaah lain karena takut kotor, memperlihatkan sajadahnya yang bagus,
  • ada jamaah yang menghindar dan tidak rela ketika kakinya disentuh/ditempeli kaki jamaah lain di sampingnya, semakin banyak celah di antara jamaah yang tidak rapat sehingga memungkinkan setan masuk di barisan salat,
  • imam salat hanya sebatas memberikan himbauan kepada makmumnya untuk merapatkan barisan shaf salat tanpa merasa perlu memeriksa lagi dan meluruskan shaf yang masih renggang.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan tentang keharusan meluruskan dan merapatkan barisan ketika kaum muslimin menjalankan ibadah shalat berjamaah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rahimahullah, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap akan salat selalu menghadap kepada kami sebelum beliau bertakbir, lalu beliau bersabda, “Berdirilah kalian rapat-rapat dalam shaf dan luruskanlah shaf-shaf kalian!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini kita mengetahui wajibnya rapat dan lurus dalam barisan salat berjamaah, karena asal dari suatu perintah adalah menunjukkan keharusan kecuali apabila ada dalil lain yang memalingkannya. Hadis ini juga memberikan pengajaran bagi para imam agar memperhatikan dan memastikan bahwa jamaah sudah rapat dan lurus sebelum takbir untuk memulai salat berjamaah.

Setelah membaca hadis tersebut, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk mengatakan saya tidak tahu dasar/dalil wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.
Kebencian terhadap Sesama
Sesungguhnya Islam telah menghimbau kepada umatnya untuk senantiasa menjaga ukhuwah ini, karena pada hakikatnya kaum mukminin itu bersaudara. Mereka bagaikan susunan bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu sama lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10)
Dari Abu Qasim al-Jadali berkata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap­kan wajahnya kepada manusia dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian (3X)! Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Nu’man berkata, “Maka aku melihat seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, mata kaki dengan mata kaki temannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 662)
Perhatikan hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintah­­kan kita untuk meluruskan barisan dalam salat berjamaah yang salah satu faedahnya adalah agar hati-hati kaum muslimin tidak berselisih.

Dengannya lah -Insya Allah- akan terwujud kecintaan di antara kaum muslimin. Inilah salah satu jalan untuk meraih persatuan dan kesatuan umat Islam.
Bagaimana Cara Meluruskan dan Merapatkan Barisan Salat?
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menerangkan cara meluruskan dan merapat­kan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ia berkata,
“Dahulu salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau melakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal (hewan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai) yang liar.” (HR. al-Bukhari)
Berdasarkan hadis tersebut dan dalil-dalil sahih yang lainnya, dapat dipahami bahwa cara meluruskan dan merapatkan shaf di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Merapatkan bahu dengan bahu, kemudian menempelkan telapak kaki dengan telapak kaki (bagian tumit), mata kaki dengan mata kaki, dan lutut dengan lutut saudaranya yang ada di sampingnya.
  2. Menjaga agar bahu, leher, dan dada tetap lurus dengan sampingnya, yaitu tidak lebih maju atau lebih mundur dari yang lainnya.
  3. Tidak membuat shaf sendirian selama hal itu memungkinkan, apabila tidak memungkin­kan maka tidak mengapa berjamaah dengan membuat shaf sendiri atau berdiri di samping imam.
Semoga dengan risalah yang singkat ini menguatkan semangat kita dalam mengamalkan kewajiban-kewajiban, termasuk merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah. Dan semoga umat Islam bisa bersatu secara lahiriah maupun batiniah dengan berpegang erat serta berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis yang sahih. Dan akhirnya persatuan umat Islam kembali bermula dan semakin kokoh ke depannya. Aamiin.

Sumber : Bulettin Al-Iman

Jumat, 29 Agustus 2014

Amerika pernah takluk di bawah Khilafah

Fakta penelitian menunjukkan bahwa ada 565 nama kota, desa, gunung, sungai dan danau, dll, yang terbagi dalam 484 nama di Amerika dan 81 nama di Kanada, ternyata secara etimologis berasal dari bahasa Arab. Kondisi ini ditunjukkan oleh para penduduk setempat jauh sebelum kedatangan Columbus. Banyak dari nama-nama ini sebenarnya sama dengan nama-nama tempat-tempat suci Islam misalnya Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, dll.

Struktur rumah dan gedung yang ditemukan dalam penggalian arkeologi yang dilakukan di Afrika Utara dan Amerika Utara menunjukkan tingkat kesamaan antara bangunan-bangunan abad kesembilan. Misalnya struktur rumah Berber dari Pegunungan Atlas, Maroko, persis sama dengan sebuah rumah di New Mexico. Kesamaan yang persis terlihat antara Kastil Montezuma yang ditemukan di Arizona dan sisa-sisa reruntuhan yang ditemukan di Mesa Verde di Colorado dengan struktur umum bangunan-bangunan Berber. Profesor Cyrus Thomas (Smithsonian Institute) menunjukkan dalam salah satu penelitiannya bahwa terdapat kesamaan antara sebuah pondok kecil yang dibangun dari tumpukan batu yang ditemukan di Ellenville, New York, dengan sebuah kabin, yang juga terbuat dari batu, yang ditemukan di sekitar Aqabah, Arabia Selatan, sekitar abad kedelapan.


Dalam banyak sumber-sumber Islam, meskipun referensi mengenai Amerika hampir tidak didokumentasikan, penting dicatat bahwa selama periode Kekhalifahan Andalusia, umat Islam di Spanyol dan Afrika Utara telah membuat banyak perjalanan ke luar negeri. Hal ini sangat mungkin bahwa banyak dari mereka sebenarnya bepergian menuju Amerika.

Benteng Islam terakhir di Spanyol, Granada, jatuh sebelum terjadinya Inkuisisi Spanyol yang didirikan pada tahun 1492. Inkuisisi itu memaksa banyak orang non-Kristen untuk pindah agama menjadi Katolik atau menghadapi pengasingan sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari tindakan kejam. Selama periode ini, Raja Spanyol Charles V mengeluarkan perintah yang melarang terjadinya imigrasi kaum Muslim ke pemukiman di Barat Spanyol. Perintah ini kemudian diperluas dengan mengusir semua Muslim keluar dari Koloni Spanyol tahun 1543. Semua ini, ditambah dengan bukti-bukti lain, menunjukkan kehadiran kaum Muslim di Spanyol yang berbahasa Spanyol Amerika sebelum tahun 1550.

Meskipun kaum Muslim menderita kerugian teritorial di Spanyol, kehadiran mereka di wilayah-wilayah seperti Amerika rupanya tidak diperhitungkan. Namun, jantung peradaban Islam, Khilafah, terus menjadi mercusuar yang dihormati. Otoritas politik Kekhalifahan mendominasi koridor-koridor kekuatan dari wilayah-wilayah yang kemudian menjadi penting di arena internasional. Lebih dari dua abad kemudian, kekuasaan politik Kekhalifahan masih kuat berdiri.

Pada tahun 1783, Amerika mengerahkan kapal-kapal pertama angkatan lautnya, yang mulai berlayar di perairan internasional. Dalam waktu dua tahun, kapal-kapal itu ditangkap oleh angkatan laut Kekhalifahan Utsmani, dekat Aljazair. Angkatan Laut Kekhalifahan itu berasal dari wilayah yang termasuk governorat Afrika Utara dari Aljazair, Tunisia dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Sebagai perbandingan mencolok, wilayah ini pada hari ini, adalah wilayah terbaru dari front perang yang dibuka oleh Amerika dan NATO yang mengincar lokasi yang strategis dan cadangan minyak.
Penangkapan kapal-kapal Amerika membawa Amerika ke dalam konflik langsung dengan Khilafah sehingga hubungan tingkat negara dengan negara Khilafah menjadi perlu.

Pada tahun 1786 Thomas Jefferson, yang kemudian menjadi Duta Besar Amerika untuk Prancis, dan John Adams, yang kemudian menjadi Duta Besar Amerika untuk Inggris, bertemu di London dengan Sidi Haji Abdul Rahman Adja, Duta Besar Khilafah untuk Inggris. Pertemuan itu dalam rangka menegosiasikan sebuah perjanjian perdamaian, yang akan didasarkan pada pendanaan dari pemungutan suara di Kongres. Ini mungkin merupakan kontak tingkat tinggi pertama antara pejabat tinggi Amerika dan Khilafah.
Setelah pertemuan itu, kedua orang yang merupakan Presiden Amerika masa depan, melaporkan kepada Kongres AS, dan memberikan informasi mengenai alasan permusuhan umat Islam terhadap Amerika dengan kata-kata ini: “…bahwa (Kekhalifahan) didirikan berdasarkan Hukum Nabi mereka, bahwa hal itu ditulis dalam al-Quran mereka; bahwa semua negara yang tidak mengakui otoritas mereka adalah negara yang berdosa; bahwa hak dan kewajiban mereka untuk berperang terhadap negara-negara itu di mana saja mereka bisa ditemukan…; dan bahwa setiap Musselman (Muslim) yang terbunuh dalam peperangan pasti akan masuk surga.”

Kesan pertama dari umat Islam, yang bersatu di bawah naungan Khilafah, pada para duta besar Amerika adalah sangat berlawanan dengan realitas pada saat ini. Para penguasa negeri-negeri Muslim bersaing untuk dihargai oleh para duta besar Amerika. Seperti yang diungkapkan Wikileaks, para penguasa yang memalukan itu mencari dan meminta semua jenis bantuan, dan kemudian berterima kasih kepada para duta besar mereka atas bantuan dalam mencapai jenjang kekuasaan. Selain itu, mereka melaporkan persaingan di dalam negeri mereka kepada para dubes itu, dan mencari bantuan untuk mengatasi satu sama lain.

Dalam hal status quo, kaum Muslim di bawah Kekhalifahan sangat berbeda dengan realitas pada hari ini. Pada tahun 1793,  Amerika sekali lagi memasuki wilayah perairan yang didominasi oleh Khilafah, dan kali ini 12 kapal Angkatan Laut Amerika ditangkap. Untuk menanggapi hal ini, Kongres Amerika memberikan mandat pada Presiden Washington, pada bulan Maret 1794, untuk membelanjakan hingga 700.000 koin emas dengan tujuan membangun kapal-kapal untuk armada angkatan laut yang kuat yang terbuat dari baja. Namun, armada ini hilang lagi dalam konfrontasi dengan Angkatan Laut Khilafah itu.

Sejak itu Amerika telah menyadari mereka berhadapan dengan kekuatan negara adidaya: Khilafah. Setahun kemudian Amerika Serikat menandatangani Perjanjian Barbary dengan negara Khilafah. Kata Barbary merujuk pada governorat Afrika Utara untuk wilayah Aljazair, Tunisia dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Ketentuan dalam Perjanjian Barbery itu mewajibkan Amerika untuk membayar sejumlah besar uang kepada Khilafah sebagai imbalan izin untuk berlayar di Samudera Atlantik dan Laut Mediterania serta mengembalikan kapal-kapal yang ditangkap, mulai dengan pembayaran dengan metode one off payment yang bernilai $ 992.463. Sebagai imbalannya, Pemerintah Amerika harus membayar lagi $ 642.000 yang setara dengan emas. Selain itu, Amerika setuju untuk membayar pajak tahunan (upeti) senilai $ 12 000 dalam bentuk emas.

Sangat menarik untuk dicatat, Khilafah lebih lanjut menegaskan supremasi diplomatiknya, dengan mewajibkan Amerika untuk membayar upeti tahunan, menurut kalender Islam dan bukan menurut kalender Kristen. Selanjutnya, sebagai tebusan untuk tentara Amerika yang ditangkap, Amerika harus membayar $ 585.000. Selain dari upeti yang bernilai sangat besar ini, Amerika setuju untuk membangun dan memberikan dengan biaya sendiri armada kapal baja bagi Khilafah. Kerelaan Amerika ini sebenarnya telah ‘menjerumuskan’ Amerika sendiri ke dalam pembayaran kurang lebih tiga puluh kali lipat perkiraan uang yang harus di bayar sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian. Pasalnya, biaya kapal-kapal yang terbuat dari baja, biaya untuk tiang-tiangnya dan papan-papan baja yang berat, sangatlah besar biayanya.  Belum lagi di tambah bahan-bahannya sulit untuk didapatkan, dan biaya transportasi pengiriman ke Turki Utsmani yang besar.

Perjanjian ini kemudian sesuai dengan status quo kekuasaan yang ditulis dalam bahasa negara Khilafah, yaitu bahasa Turki dan ditandatangani oleh Presiden Washington. Perjanjian itu merupakan satu-satunya dokumen hukum Amerika yang pernah dibuat dalam bahasa asing. Yang menarik, ini merupakan satu-satunya perjanjian yang pernah ditanda tangani Amerika yang menyetujui untuk membayar pajak tahunan kepada bangsa lain. Perjanjian itu tetap berlaku, sampai Khilafah runtuh. 
[Sharique Naeem]
Sharique Naeem adalah seorang insinyur, komentator politik dan penulis. Tulisan-tulisannya diterbitkan di surat kabar-surat kabar nasional Pakistan, Bangladesh, India, Yaman dan Iran [al-waie/syabab.com]

Kamis, 21 Agustus 2014

isu adanya perpecahan antar mujahidin jauh dari realita

Selama ini isu adanya perselisihan mujahidin menjadi perbincangan hangat di kalangan kaum Muslimin Indonesia. Isu ini kemudian disambut dengan pemberitaan yang menerangkan adanya perpecahan. Namun, berdasarkan hasil penelusuran tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) kabar justru jauh dari realita.

Beberapa katibah mujahidin yang ditemui menerangkan kedekatan mereka satu sama lain. Bahkan jarang ditemui satu operasi dilakukan hanya oleh satu katibah.
Dalam sebuah pertempuran di daerah Sarmin, provinsi Idlib, mujahidin bersatu menghadapi tentara rezim Bashar al Asaad yang mendadak menyerang kaum Muslimin.

Menghadapi serangan ini, mereka sontak merapatkan barisan untuk menyusun kekuatan. Mereka menamakan operasi ini dengan nama Ma’rokah Mukhlisin atau perang orang-orang yang ikhlas.
“Dinamakan demikian karena operasi ini terdiri dari banyak katibah. Dan mereka meninggalkan identitas katibah masing-masing untuk bersatu melakukan perlawanan,” ujar seorang Mujahidin kepada tim JITU di kota Sarmin, Jum’at (18/04/2014).

Dalam pertempuran itu, seorang mujahidin bernama Musthafa, gugur syahid, insya Allah, terkena tembakan. Tidak ingin jenazah pejuang yang juga ulama ini dihinakan oleh tentara rezim, mujahidin dari katibah lainnya berusaha menyelamatkan jenazahnya. Namun, mereka turut menemui syahid, insyaAllah, karena ditembak tentara rezim.
“Usaha itu dilakukan oleh tiga orang mujahidin yang berasal dari katibah lain,” ujarnya.
Dalam pertempuran ini, 140 tentara rezim dikabarkan tewas. Sedangkan 25 pejuang gugur syahid, Insya Allah

sumber : hidayatullah

Jenderal Pertahanan Udara Suriah Tewas di Dekat Damaskus

Kepala pasukan pertahanan udara Suriah Letnan Jenderal Hussein Ishaq tewas dalam sebuah pertempuran di dekat kota Damaskus, kata pejabat keamanan Suriah mengabarkan ke
pada kantor-kantor berita.
Dilansir kantor berita AFP, Ishaq tewas hari Sabtu (17/5/2014) karena luka-luka yang dideritanya saat pasukan oposisi menyerang markas pertahanan udara Suriah di kota Mleiha, salah satu medan pertempuran penting di tenggara ibukota Damaskus.

Pasukan pertahanan udara rezim digunakan untuk menghadapi kemungkinan serangan udara Amerika Serikat, tetapi dalam peperangan ini mereka menggunakannya untuk melawan oposisi, kata Rami Abdul Rahman direktur Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di London kepada AFP.
Abdul Rahman menyebut kematian Ishaq sebagai “pukulan psikologis penting” untuk rezim Bashar Al-Assad.

Selama lebih dari sebulan terakhir, pasukan rezim Suriah dibantu pasukan dari organisasi teroris Syiah asal Libanon, Hizbullah, berusaha merebut kembali Mlieha, kota strategis yang dikuasai pasukan oposisi.
Mlieha sudah dikepung selama lebih dari satu tahun, dan lebih dari sebulan terakhir dihujani tembakan oleh pasukan rezim dan pendukungnya.

Menurut Observatory, meskipun Mlieha dikepung dan dibombardir pasukan pro-Assad, namun para pejuang dari kelompok oposisi berhasil mempertahankannya, mengambilalih kembali sejumlah gedung di pusat kota.
Sementara rezim Assad masih menguasai Damaskus, pasukan oposisi menduduki sejumlah kota dan desa di sekitar ibukota Suriah.

sumber: Hidayatullah.com