Jumat, 07 Oktober 2016

MUNCULNYA paham FLAT EARTH SOCIETY


Sejak Galileo Galilei mengatakan bumi itu bulat, maka sejak saat itu persepsi dunia terhadap bumi berubah.  Bumi yang semula dianggap datar, kini berubah menjadi bulat. Foto-foto NASA memperkuat kesimpulan bahwa bumi itu berbentuk seperti elips atau mendekati bundar. Hingga saat ini, tidak ada bantahan resmi dari dunia sains terhadap ‘fakta’ tersebut.


Benarkah demikian? Tidak, kata Flat Earth Society, sebuah organisasi yang menolak teori tentang bumi bulat sejak tahun 1956. Menurut komunitas ini, bumi bulat merupakan salah satu dari bagian konspirasi NASA dan pemerintah AS yang membodohi dunia dengan bukti-bukti palsu. Meski terlihat aneh, anggota organisasi ini setiap tahunnya bertambah 200 orang sejak 2009 (dan rata-rata mereka berasal dari Amerika dan Inggris).
Menurut mereka, bumi sebenarnya lempengan datar berbentuk cakram dengan Kutub Utara sebagai pusatnya, serta dikelilingi oleh dinding es di Kutub Selatan. Matahari dan bulan berjarak 3000 mil atau 4800 km di atas bumi. Grativasi bumi juga sebuah ilusi menurut mereka, sebab kecepatan benda tidaklah semakin bertambah ketika jatuh ke bawah (menurut Newton sebesar 9,8 meter perdetik) justru benda semakin bertambah kecepatannya ketika ke atas karena pengaruh dari ‘dark energy’ yang misterius. Sedangkan foto-foto bumi yang dipublikasikan NASA adalah foto rekayasa. Bahkan pilot pesawat terbang merasa pesawat yang mereka bawa masih di atas sebuah ‘bola’, padahal sebenarnya mereka terbang di atas sebuah cakram.
Untuk apa pemerintah merekayasa ini?
“Uang,” demikian penjelasan yang didapat dari situs resmi organisasi ini. Secara logika, lebih hemat menciptakan program luar angkasa yang palsu dibanding benar-benar meneliti tentang alam raya ini.  Flat Earth Society menggunakan Metode Zetitic sebagai ganti Metode Ilmiah yang sudah dikenal sejak lama. Metode ini menggabungkan antara pengalaman empiris dengan rasionalisme dengan dasar penalaran deduktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Contohnya, jika kita meyakini bahwa bumi ini datar, maka seluruh bukti-bukti empiris haruslah memperkuat ini.
Mereka juga memiliki teori percepatan elektromagnetik untuk menjelaskan terbit dan terbenamnya matahari (yang kalau menggunakan teori umum, bumi berputar mengelilingi matahari). Bahkan mereka tidak mempercayai adanya satelit yang mengorbit bumi. Menurut organisasi yang sekarang dikepalai oleh Daniel Shenton, semua penjelasan tentang karakteristik bumi yang selama ini didoktrin dari NASA dapat juga mereka bantah, mulai dari penjelasan mengenai fenomena pasang surut air laut, erupsi vulkanik, zona waktu, kompas, dan lainnya. Selain itu, organisasi ini juga menganggap pemanasan global adalah hoax alias isyu palsu.
 
Flat Earth Society juga memiliki versi tersendiri mengenai peta bumi datar yang menempatkan Kutub Utara sebagai pusatnya. Peta tersebut bukan 2D, melainkan lingkaran. Uniknya, logo resmi badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri mirip dengan peta ini. Apakah PBB secara tersirat percaya kalau bumi itu datar?
Sumber: GuardianThe Flat Earth Society,LiveScience

Tidak ada komentar:

Posting Komentar