Minggu, 31 Agustus 2014

Mengapa Enggan Untuk Merapatkan Shaf?

shaf-ala-salafi-wahabiHampir setiap kali menunaikan salat berjamaah kita mendengar imam salat mengatakan, “Rapatkan dan luruskan barisan!”; “Luruskan dan rapatkan barisan, karena rapat dan lurusnya barisan merupakan kesempurnaan salat!” atau kata-kata senada yang kurang lebih maknanya sama. Namun, pada kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang tidak mendengar dan tidak mau mematuhi ajakan imam untuk meluruskan dan merapatkan barisan.
Sering kali kita dapati para makmum tidak memedulikan masalah meluruskan barisan, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, telapak kaki membentuk huruf V sehingga mustahil bisa rapat satu sama lain, ataupun kaki-kaki mereka tidak bersentuhan dengan saudaranya yang ada di sampingnya, tidak peduli lagi akan lurus dan rapatnya barisan salat berjamaah. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang apabila ada orang yang merapat, malah semakin menjauh dan marah karena didekati saudaranya sesama umat Islam. Padahal kaum muslimin adalah bersaudara yang diperintah agar merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.

MENGAPA TIDAK MAU MERAPAT ?
Apabila kita mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri ataupun pada saudara kita sesama umat Islam, maka kita akan mendapati jawaban yang bermacam-macam. Pada kesempatan kali ini, kami sebutkan beberapa alasan dengan disertai solusi atau jawabannya.
Merapatkan Shaf Dapat Menghilangkan/Mengurangi Kekhusyu’an?!
Sesungguhnya tidak menaati perintah-perintah Allah dan Nabi-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan sebab terhalangnya seseorang dari mendapatkan hidayah,khusyu’, dan tuma’ninah, bukan malah sebaliknya.

Terkadang memang timbul rasa was-was pada waktu pertama kali merapatkan shaf sebagaimana yang diperintahkan, dan hal ini jelas datangnya dari setan, agar kita tidak meluruskan dan merapatkan barisan shaf dalam shalat berjamaah. Hal ini karena belum terbiasa, dan kesulitan penyesuaian dalam setiap awal suatu perbuatan adalah suatu hal yang biasa dan wajar. Hal itu akan hilang dengan sendirinya setelah adanya kebulatan tekad dan pelaksanaan secara istiqamah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti barisannya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. (Shahih, HR. Abu Dawud no. 666)
Hadis ini sangat gamblang menjelaskan kepada kita bahwa umat Islam diperintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah, renggangnya barisan jamaah merupakan celah bagi setan untuk menggoda orang-orang yang sedang salat.

Tidak Mengetahui Wajibnya Merapatkan dan Meluruskan Barisan ketika Salat Berjamaah
Akibat dari ketidaktahuan kaum muslimin akan wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan ketika shalat berjamaah, banyak kita jumpai kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan tidak rapat dan lurusnya barisan dalam salat berjamaah. Di antara kesalahan-kesalahan tersebut, yaitu:
  • banyak jamaah pergi ke masjid dengan membawa sajadah yang lebih lebar dari badannya dan terkesan tidak boleh diinjak jamaah lain karena takut kotor, memperlihatkan sajadahnya yang bagus,
  • ada jamaah yang menghindar dan tidak rela ketika kakinya disentuh/ditempeli kaki jamaah lain di sampingnya, semakin banyak celah di antara jamaah yang tidak rapat sehingga memungkinkan setan masuk di barisan salat,
  • imam salat hanya sebatas memberikan himbauan kepada makmumnya untuk merapatkan barisan shaf salat tanpa merasa perlu memeriksa lagi dan meluruskan shaf yang masih renggang.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan tentang keharusan meluruskan dan merapatkan barisan ketika kaum muslimin menjalankan ibadah shalat berjamaah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rahimahullah, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap akan salat selalu menghadap kepada kami sebelum beliau bertakbir, lalu beliau bersabda, “Berdirilah kalian rapat-rapat dalam shaf dan luruskanlah shaf-shaf kalian!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini kita mengetahui wajibnya rapat dan lurus dalam barisan salat berjamaah, karena asal dari suatu perintah adalah menunjukkan keharusan kecuali apabila ada dalil lain yang memalingkannya. Hadis ini juga memberikan pengajaran bagi para imam agar memperhatikan dan memastikan bahwa jamaah sudah rapat dan lurus sebelum takbir untuk memulai salat berjamaah.

Setelah membaca hadis tersebut, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk mengatakan saya tidak tahu dasar/dalil wajibnya merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah.
Kebencian terhadap Sesama
Sesungguhnya Islam telah menghimbau kepada umatnya untuk senantiasa menjaga ukhuwah ini, karena pada hakikatnya kaum mukminin itu bersaudara. Mereka bagaikan susunan bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu sama lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10)
Dari Abu Qasim al-Jadali berkata: “Aku mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap­kan wajahnya kepada manusia dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian (3X)! Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Nu’man berkata, “Maka aku melihat seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, mata kaki dengan mata kaki temannya.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 662)
Perhatikan hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintah­­kan kita untuk meluruskan barisan dalam salat berjamaah yang salah satu faedahnya adalah agar hati-hati kaum muslimin tidak berselisih.

Dengannya lah -Insya Allah- akan terwujud kecintaan di antara kaum muslimin. Inilah salah satu jalan untuk meraih persatuan dan kesatuan umat Islam.
Bagaimana Cara Meluruskan dan Merapatkan Barisan Salat?
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menerangkan cara meluruskan dan merapat­kan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ia berkata,
“Dahulu salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau melakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal (hewan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai) yang liar.” (HR. al-Bukhari)
Berdasarkan hadis tersebut dan dalil-dalil sahih yang lainnya, dapat dipahami bahwa cara meluruskan dan merapatkan shaf di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Merapatkan bahu dengan bahu, kemudian menempelkan telapak kaki dengan telapak kaki (bagian tumit), mata kaki dengan mata kaki, dan lutut dengan lutut saudaranya yang ada di sampingnya.
  2. Menjaga agar bahu, leher, dan dada tetap lurus dengan sampingnya, yaitu tidak lebih maju atau lebih mundur dari yang lainnya.
  3. Tidak membuat shaf sendirian selama hal itu memungkinkan, apabila tidak memungkin­kan maka tidak mengapa berjamaah dengan membuat shaf sendiri atau berdiri di samping imam.
Semoga dengan risalah yang singkat ini menguatkan semangat kita dalam mengamalkan kewajiban-kewajiban, termasuk merapatkan dan meluruskan barisan dalam salat berjamaah. Dan semoga umat Islam bisa bersatu secara lahiriah maupun batiniah dengan berpegang erat serta berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis yang sahih. Dan akhirnya persatuan umat Islam kembali bermula dan semakin kokoh ke depannya. Aamiin.

Sumber : Bulettin Al-Iman

Jumat, 29 Agustus 2014

Amerika pernah takluk di bawah Khilafah

Fakta penelitian menunjukkan bahwa ada 565 nama kota, desa, gunung, sungai dan danau, dll, yang terbagi dalam 484 nama di Amerika dan 81 nama di Kanada, ternyata secara etimologis berasal dari bahasa Arab. Kondisi ini ditunjukkan oleh para penduduk setempat jauh sebelum kedatangan Columbus. Banyak dari nama-nama ini sebenarnya sama dengan nama-nama tempat-tempat suci Islam misalnya Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, dll.

Struktur rumah dan gedung yang ditemukan dalam penggalian arkeologi yang dilakukan di Afrika Utara dan Amerika Utara menunjukkan tingkat kesamaan antara bangunan-bangunan abad kesembilan. Misalnya struktur rumah Berber dari Pegunungan Atlas, Maroko, persis sama dengan sebuah rumah di New Mexico. Kesamaan yang persis terlihat antara Kastil Montezuma yang ditemukan di Arizona dan sisa-sisa reruntuhan yang ditemukan di Mesa Verde di Colorado dengan struktur umum bangunan-bangunan Berber. Profesor Cyrus Thomas (Smithsonian Institute) menunjukkan dalam salah satu penelitiannya bahwa terdapat kesamaan antara sebuah pondok kecil yang dibangun dari tumpukan batu yang ditemukan di Ellenville, New York, dengan sebuah kabin, yang juga terbuat dari batu, yang ditemukan di sekitar Aqabah, Arabia Selatan, sekitar abad kedelapan.


Dalam banyak sumber-sumber Islam, meskipun referensi mengenai Amerika hampir tidak didokumentasikan, penting dicatat bahwa selama periode Kekhalifahan Andalusia, umat Islam di Spanyol dan Afrika Utara telah membuat banyak perjalanan ke luar negeri. Hal ini sangat mungkin bahwa banyak dari mereka sebenarnya bepergian menuju Amerika.

Benteng Islam terakhir di Spanyol, Granada, jatuh sebelum terjadinya Inkuisisi Spanyol yang didirikan pada tahun 1492. Inkuisisi itu memaksa banyak orang non-Kristen untuk pindah agama menjadi Katolik atau menghadapi pengasingan sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari tindakan kejam. Selama periode ini, Raja Spanyol Charles V mengeluarkan perintah yang melarang terjadinya imigrasi kaum Muslim ke pemukiman di Barat Spanyol. Perintah ini kemudian diperluas dengan mengusir semua Muslim keluar dari Koloni Spanyol tahun 1543. Semua ini, ditambah dengan bukti-bukti lain, menunjukkan kehadiran kaum Muslim di Spanyol yang berbahasa Spanyol Amerika sebelum tahun 1550.

Meskipun kaum Muslim menderita kerugian teritorial di Spanyol, kehadiran mereka di wilayah-wilayah seperti Amerika rupanya tidak diperhitungkan. Namun, jantung peradaban Islam, Khilafah, terus menjadi mercusuar yang dihormati. Otoritas politik Kekhalifahan mendominasi koridor-koridor kekuatan dari wilayah-wilayah yang kemudian menjadi penting di arena internasional. Lebih dari dua abad kemudian, kekuasaan politik Kekhalifahan masih kuat berdiri.

Pada tahun 1783, Amerika mengerahkan kapal-kapal pertama angkatan lautnya, yang mulai berlayar di perairan internasional. Dalam waktu dua tahun, kapal-kapal itu ditangkap oleh angkatan laut Kekhalifahan Utsmani, dekat Aljazair. Angkatan Laut Kekhalifahan itu berasal dari wilayah yang termasuk governorat Afrika Utara dari Aljazair, Tunisia dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Sebagai perbandingan mencolok, wilayah ini pada hari ini, adalah wilayah terbaru dari front perang yang dibuka oleh Amerika dan NATO yang mengincar lokasi yang strategis dan cadangan minyak.
Penangkapan kapal-kapal Amerika membawa Amerika ke dalam konflik langsung dengan Khilafah sehingga hubungan tingkat negara dengan negara Khilafah menjadi perlu.

Pada tahun 1786 Thomas Jefferson, yang kemudian menjadi Duta Besar Amerika untuk Prancis, dan John Adams, yang kemudian menjadi Duta Besar Amerika untuk Inggris, bertemu di London dengan Sidi Haji Abdul Rahman Adja, Duta Besar Khilafah untuk Inggris. Pertemuan itu dalam rangka menegosiasikan sebuah perjanjian perdamaian, yang akan didasarkan pada pendanaan dari pemungutan suara di Kongres. Ini mungkin merupakan kontak tingkat tinggi pertama antara pejabat tinggi Amerika dan Khilafah.
Setelah pertemuan itu, kedua orang yang merupakan Presiden Amerika masa depan, melaporkan kepada Kongres AS, dan memberikan informasi mengenai alasan permusuhan umat Islam terhadap Amerika dengan kata-kata ini: “…bahwa (Kekhalifahan) didirikan berdasarkan Hukum Nabi mereka, bahwa hal itu ditulis dalam al-Quran mereka; bahwa semua negara yang tidak mengakui otoritas mereka adalah negara yang berdosa; bahwa hak dan kewajiban mereka untuk berperang terhadap negara-negara itu di mana saja mereka bisa ditemukan…; dan bahwa setiap Musselman (Muslim) yang terbunuh dalam peperangan pasti akan masuk surga.”

Kesan pertama dari umat Islam, yang bersatu di bawah naungan Khilafah, pada para duta besar Amerika adalah sangat berlawanan dengan realitas pada saat ini. Para penguasa negeri-negeri Muslim bersaing untuk dihargai oleh para duta besar Amerika. Seperti yang diungkapkan Wikileaks, para penguasa yang memalukan itu mencari dan meminta semua jenis bantuan, dan kemudian berterima kasih kepada para duta besar mereka atas bantuan dalam mencapai jenjang kekuasaan. Selain itu, mereka melaporkan persaingan di dalam negeri mereka kepada para dubes itu, dan mencari bantuan untuk mengatasi satu sama lain.

Dalam hal status quo, kaum Muslim di bawah Kekhalifahan sangat berbeda dengan realitas pada hari ini. Pada tahun 1793,  Amerika sekali lagi memasuki wilayah perairan yang didominasi oleh Khilafah, dan kali ini 12 kapal Angkatan Laut Amerika ditangkap. Untuk menanggapi hal ini, Kongres Amerika memberikan mandat pada Presiden Washington, pada bulan Maret 1794, untuk membelanjakan hingga 700.000 koin emas dengan tujuan membangun kapal-kapal untuk armada angkatan laut yang kuat yang terbuat dari baja. Namun, armada ini hilang lagi dalam konfrontasi dengan Angkatan Laut Khilafah itu.

Sejak itu Amerika telah menyadari mereka berhadapan dengan kekuatan negara adidaya: Khilafah. Setahun kemudian Amerika Serikat menandatangani Perjanjian Barbary dengan negara Khilafah. Kata Barbary merujuk pada governorat Afrika Utara untuk wilayah Aljazair, Tunisia dan Tripoli, yang berada di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Ketentuan dalam Perjanjian Barbery itu mewajibkan Amerika untuk membayar sejumlah besar uang kepada Khilafah sebagai imbalan izin untuk berlayar di Samudera Atlantik dan Laut Mediterania serta mengembalikan kapal-kapal yang ditangkap, mulai dengan pembayaran dengan metode one off payment yang bernilai $ 992.463. Sebagai imbalannya, Pemerintah Amerika harus membayar lagi $ 642.000 yang setara dengan emas. Selain itu, Amerika setuju untuk membayar pajak tahunan (upeti) senilai $ 12 000 dalam bentuk emas.

Sangat menarik untuk dicatat, Khilafah lebih lanjut menegaskan supremasi diplomatiknya, dengan mewajibkan Amerika untuk membayar upeti tahunan, menurut kalender Islam dan bukan menurut kalender Kristen. Selanjutnya, sebagai tebusan untuk tentara Amerika yang ditangkap, Amerika harus membayar $ 585.000. Selain dari upeti yang bernilai sangat besar ini, Amerika setuju untuk membangun dan memberikan dengan biaya sendiri armada kapal baja bagi Khilafah. Kerelaan Amerika ini sebenarnya telah ‘menjerumuskan’ Amerika sendiri ke dalam pembayaran kurang lebih tiga puluh kali lipat perkiraan uang yang harus di bayar sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian. Pasalnya, biaya kapal-kapal yang terbuat dari baja, biaya untuk tiang-tiangnya dan papan-papan baja yang berat, sangatlah besar biayanya.  Belum lagi di tambah bahan-bahannya sulit untuk didapatkan, dan biaya transportasi pengiriman ke Turki Utsmani yang besar.

Perjanjian ini kemudian sesuai dengan status quo kekuasaan yang ditulis dalam bahasa negara Khilafah, yaitu bahasa Turki dan ditandatangani oleh Presiden Washington. Perjanjian itu merupakan satu-satunya dokumen hukum Amerika yang pernah dibuat dalam bahasa asing. Yang menarik, ini merupakan satu-satunya perjanjian yang pernah ditanda tangani Amerika yang menyetujui untuk membayar pajak tahunan kepada bangsa lain. Perjanjian itu tetap berlaku, sampai Khilafah runtuh. 
[Sharique Naeem]
Sharique Naeem adalah seorang insinyur, komentator politik dan penulis. Tulisan-tulisannya diterbitkan di surat kabar-surat kabar nasional Pakistan, Bangladesh, India, Yaman dan Iran [al-waie/syabab.com]

Kamis, 21 Agustus 2014

isu adanya perpecahan antar mujahidin jauh dari realita

Selama ini isu adanya perselisihan mujahidin menjadi perbincangan hangat di kalangan kaum Muslimin Indonesia. Isu ini kemudian disambut dengan pemberitaan yang menerangkan adanya perpecahan. Namun, berdasarkan hasil penelusuran tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) kabar justru jauh dari realita.

Beberapa katibah mujahidin yang ditemui menerangkan kedekatan mereka satu sama lain. Bahkan jarang ditemui satu operasi dilakukan hanya oleh satu katibah.
Dalam sebuah pertempuran di daerah Sarmin, provinsi Idlib, mujahidin bersatu menghadapi tentara rezim Bashar al Asaad yang mendadak menyerang kaum Muslimin.

Menghadapi serangan ini, mereka sontak merapatkan barisan untuk menyusun kekuatan. Mereka menamakan operasi ini dengan nama Ma’rokah Mukhlisin atau perang orang-orang yang ikhlas.
“Dinamakan demikian karena operasi ini terdiri dari banyak katibah. Dan mereka meninggalkan identitas katibah masing-masing untuk bersatu melakukan perlawanan,” ujar seorang Mujahidin kepada tim JITU di kota Sarmin, Jum’at (18/04/2014).

Dalam pertempuran itu, seorang mujahidin bernama Musthafa, gugur syahid, insya Allah, terkena tembakan. Tidak ingin jenazah pejuang yang juga ulama ini dihinakan oleh tentara rezim, mujahidin dari katibah lainnya berusaha menyelamatkan jenazahnya. Namun, mereka turut menemui syahid, insyaAllah, karena ditembak tentara rezim.
“Usaha itu dilakukan oleh tiga orang mujahidin yang berasal dari katibah lain,” ujarnya.
Dalam pertempuran ini, 140 tentara rezim dikabarkan tewas. Sedangkan 25 pejuang gugur syahid, Insya Allah

sumber : hidayatullah

Jenderal Pertahanan Udara Suriah Tewas di Dekat Damaskus

Kepala pasukan pertahanan udara Suriah Letnan Jenderal Hussein Ishaq tewas dalam sebuah pertempuran di dekat kota Damaskus, kata pejabat keamanan Suriah mengabarkan ke
pada kantor-kantor berita.
Dilansir kantor berita AFP, Ishaq tewas hari Sabtu (17/5/2014) karena luka-luka yang dideritanya saat pasukan oposisi menyerang markas pertahanan udara Suriah di kota Mleiha, salah satu medan pertempuran penting di tenggara ibukota Damaskus.

Pasukan pertahanan udara rezim digunakan untuk menghadapi kemungkinan serangan udara Amerika Serikat, tetapi dalam peperangan ini mereka menggunakannya untuk melawan oposisi, kata Rami Abdul Rahman direktur Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di London kepada AFP.
Abdul Rahman menyebut kematian Ishaq sebagai “pukulan psikologis penting” untuk rezim Bashar Al-Assad.

Selama lebih dari sebulan terakhir, pasukan rezim Suriah dibantu pasukan dari organisasi teroris Syiah asal Libanon, Hizbullah, berusaha merebut kembali Mlieha, kota strategis yang dikuasai pasukan oposisi.
Mlieha sudah dikepung selama lebih dari satu tahun, dan lebih dari sebulan terakhir dihujani tembakan oleh pasukan rezim dan pendukungnya.

Menurut Observatory, meskipun Mlieha dikepung dan dibombardir pasukan pro-Assad, namun para pejuang dari kelompok oposisi berhasil mempertahankannya, mengambilalih kembali sejumlah gedung di pusat kota.
Sementara rezim Assad masih menguasai Damaskus, pasukan oposisi menduduki sejumlah kota dan desa di sekitar ibukota Suriah.

sumber: Hidayatullah.com

Zionis langgar janji Al-Qassam bunyikan ancaman

Sayap pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam,  hari Selasa (19/08/2014) malam mengeluarkan pernyataan terbaru yang menegaskan pelanggaran yang dilakukan penjajah Israel dalam gencatan senjata dengan cara melakukan pembantaian sebuah keluarga.

Menurut Al-Qassam, pelanggaran yang dilakukan Israel sama saja membuat membuka pintu neraka untuk dirinya sendiri. Dikutip Mufakkiroh al-Islam, Rabu (20/08/2014), Al-Qassam merilis pernyataan dengan mengatakan Israel akan membayar harga yang mahal akibat dari pelanggaran gencatan senjata dan keberanian melakukan pembantaian ini.

Berikut bunyi pernyataan tersebut:
“Musuh melanggar gencatan senjata dan melakukan pembantaian atas sebuah keluarga, itu sama saja membuka pintu neraka untuk dirinya sendiri.
“Namun, Zionis  selalu menolak untuk mengkonfirmasi setiap kali melakukan pengkhianatan dan kejahatan, dan ini adalah pengkhianatan dan agresi terakhir, musuh telah melakukan kejahatan pada malam hari ini sebelum berakhirnya masa gencatan senjata, dengan melakukan operasi barbar pemboman udara yang mengancam warga sipil tak berdosa.

“Brigade Asy-Syahid Izzuddin al-Qassam dengan ini mengumumkan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pemboman “Tel Aviv”, “Jerusalem”, bandara “Ben-Gurion”, “Kiryat Maleakhi”,”Netivot”,”Bi’r As-Sab’” dan “Al-Majdal” dan “Sderot” dengan serangan rudal-rudal, maka malam hari ini kami menegaskan hal sebagai berikut:

Pertama: Pengeboman itu sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh musuh, dan pembantaian terhadap rakyat kami, terutama pemboman barbar atas rumah sebuah keluarga di distrik Sheikh Ridwan.
Kedua, balasan ini adalah balasan awal, dan sesungguhnya musuh dengan melakukan aksi pengkhianatan ini telah membuka pintu neraka untuk dirinya sendiri, dan akan membayar mahal, insya Allah.
Ketiga: Kami menantang Zionis untuk mengumumkan alasan sebenarnya di balik tindakan pengecut ini berupa pemboman rumah keluarga tersebut.
Ini adalah kemenangan jihad atau kesyahidan, “ demikian pernyataan resmi Brigade Izzuddin al- Qassam.

sumber :hidayatullah.com

Selasa, 12 Agustus 2014

Kemenangan ERDOGAN

SEPULUH Agustus 2014 merupakan sebuah hari yang menentukan bagi masa depan negeri Turki dan juga situasi politik kawasan Timur Tengah secara umum.
Pemilihan umum (Pemilu) Presiden yang dilaksanakan serentak di seluruh penjuru negeri akhirnya menghasilkan kemenangan multak pada Recep Tayyip Erdogan.  Kemenangan mutlak (landslide victory) dengan suara 52%, disusul Ihsanoglu dengan 38.3% suara dan Demirtas dengan 9.7% suara.
Kemenangan Erdogan disambut meriah oleh para pendukungnya dan diwarnai dengan aksi demonstrasi terhadap
jaringan televisi Samanyolu yang berlokasi di Uskudar distrik, Istanbul.

Dua hari sebelum pemilihan umum puluhan polisi sudah terlihat berjaga-jaga di depan markas jaringan televisi milik Fethullah Gulen tersebut.
Di malam hari seusai Pilpres yang memperlihatkan kemenangan mutlak Erdogan, para pendukung Erdogan melakukan aksi demonstrasi di depan stasiun televisi tersebut hingga lewat tengah malam.
Berbagai aksi demonstrasi seperti menyuarakan klakson mobil dengan keras, membunyikan ban mobil dengan rem, memutar lagu AK Parti, serta mengayunkan bendera AK Parti dilakukan secara serentak oleh para pendukung AK Parti baik pemuda ataupun pemudi.
Uniknya mayoritas warga disekitar lokasi juga turut mendukung aksi unjuk kekuatan (show of force) di depan stasiun televisi Gulenis ini.
Kemenangan ini merupakan pembuktian bahwa rakyat Turki masih mempercayai Erdogan terlepas dari propaganda stasiun televisi Samanyolu yang banyak meluncurkan berita-berita negatif tentang Erdogan.
Salah seorang pendukung Erdogan, Abdullah dari Konya, sempat menuduh Gulen ditengarai menjual informasi-informasi rahasia mengenai Erdogan dan Turki kepada Amerika dan Israel, serta negara-negara asing yang berkepentingan dan khawatir dengan pengaruh regional dan internasional Turki yang bervisi Islami.
Diantara rahasia negara yang yang dituduhkan dibocorkan oleh Gulen adalah komunikasi antara Erdogan dengan Khalid Misy’al, Kepala Biro Politik Hamas, komunikasi Erdogan dan Ahmet Dovutoghlu, dan komunikasi diplomatik lainnya.
Seperti diketahui, Gulen adalah rival Erdogan dan sudah meninggalkan Turki semenjak puluhan tahun yang lalu, namun memiliki jaringan komunitas sosial di seluruh Turki berkat institusi pendidikan dasar yang dibangun oleh para pengikutnya di seluruh Turki.
Gulen juga dituduh berusaha merebut kekuasaan dan merombak Turki sesuai keinginannya dengan mempengaruhi para pengikutnya yang berada di dalam tubuh militer maupun para politisi Gulenis.
Yang jelas, kemenangan Erdogan sedikit banyak ikut mempengaruhi dunia Islam –khususnya sebuah harapan bagi perjuangan kemerdekaan Palestina– mengingat dukungannya selama ini terhadap eksistensi negara Palestina baik melalui jalur diplomasi maupun bantuan ekonomi.
Israel di sisi lain tentu memandang hal ini sebagai salah satu ancaman regional bagi keberadaannya dan agenda-agendanya untuk menghabisi rakyat Gaza dan Tepi Barat.
Pidato kemenangan Erdogan setidaknya menunjukkan bahwa Palestina akan tetap menjadi isu utama yang diperjuangkan oleh pemerintahannya yang bervisi Islami

Kamis, 07 Agustus 2014

hati hati mebaca berita Syiah ‘Menumpang’ dalam Isu ISIS

ISIS, yang keberadaannya masih menimbulkan banyak pertanyaan publik tiba-tiba dijadikan ‘senjata’ baru untuk memojokkan umat mayoritas, Ahlus Sunnah wal Jamaah
Waspadai, Syiah ‘Menumpang’ dalam Isu ISIS

Tokoh Syiah Jalaluddin Rahmat (berbaju putih) bersama kalangan gereja kampanye menolak ISIS

HARI-hari ini, pemberitaan tentang gerakan Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS/ISIL) seolah menjadi trending topic di media massa. Kekhalifahan yang didirikan di Iraq – yang sebenarnya tidak diakui oleh Persatuan Ulama Internasional– (hidayatullah.com 6 Juli 2014) seolah menyita pemberitaan menggeser sidang kampanye kecurangan Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK).
Di tengah kesimpang siuran khilafah bentukan ISIS itu, Syiah Indonesia menumpanginya dengan memfitnah Ahlus Sunnah secara umum.
Seperti diketahui, kelompok ISIS, di Suriah memang berperang melawan pemerintah Bashar Asad yang beraliran Syiah Nushairiyah. Harap dicatat, ISIS hanya salah satu faksi perlawanan. Di Suriah masih banyak faksi-faksi pejuang dari Sunni berperaang, termasuk Jabhah Nusrah, Ahrar Syam dll. Kedua faksi ini juga berhadapan dengan kekejaman Syiah di Suriah.
Namun, mengapa keberadaan ISIS tiba-tiba diblow-up?
Pertama, barangkali karena memiliki kekhasan tersendiri, yakni bercita-cita mendirikan Khilafah Islam. Serta aksi-aksinya yang ekstrim menghabisi lawan-lawannya. Namun, bisa juga media-media Barat membesarkan wujud ISIS ini secara massif.

Kedua, di Iraq, perlawanan terhadap penjajah Amerika dan kelompok Syiah juga tidak hanya ISIS. Mujahidin Sunni di Iraq di antaranya; Dewan Militer Revolusioner Iraq atau General Military Council for Iraqi Revolutionaries (GMCIR), Tentara Islam Iraq atau Islamic Army of Iraq (IAI), Tentara Tareqat Naqsyabandiyah, dan Dewan Kebangkitan Iraq. Di antara mereka adalah mantan tentara Iraq, loyalis Saddam Hussein.
Mujahidin Tarekat Naqsyabandiyah bahkan lebih dahulu berdiri sebelum ISIS, yakni tahun 2003. Faksi mujahidin ini tidak mau ikut dalam proses politik, namun mereka hanya ingin melawan para penguasa (Syiah) yang dzalim.
Faksi-faksi mujahidin Sunni selain ISIS ini memang tidak banyak dibahas di media. Mereka bertempur dengan penjajah dan tentara Syiah. Fenomena ISIS makin mencuat setelah ISIS menguasai kota Mosul Iraq. Namun, sejumlah pengamat menilai jatuhnya Mosul dan Tikrit adalah bukan semata karena kekuatan personil ISIS, melainkan karena dukungan kelompok bersenjata faksi mujahidin yang dahulunya adalah loyalis mantan penguasa Iraq, Saddam Husein.

Sekali lagi harap dicatat, bahwa ISIS hanyalah salah satu bagian faksi di antara faksi-faksi lainnya yang berjuang melawan kedzaliman Syiah Bashar Assad dan kezaliman penguasa dukungan Syiah Iran dan penjajah AS di Iraq.

Karena itulah, Syiah paling berkepentingan agar ISIS bisa dihapus di muka bumi, khususnya di Iraq, di mana pemerintahan Syiah Nuri Al Maliki yang didukung Syiah Iran.
Karena ada latar belakang konflik Sunni-Syiah ini, kelompok Syiah Indonesia menjadikan isu ISIS sebagai komoditi kampanye hitam memojokkan Ahlus Sunnah. Kelompok Syiah di Indonesia menyambut isu ini dengan memanfaatkannya untuk kepentingan keamanan ideologinya. Bahkan, pernyataan Syiah baru-baru ini berbau adu domba. Terbukti  ketika Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rakhmat menuding bahwa akar masalah konflik di Indonesia adalah umat Islam Ahlus Sunnah yang anti terhadap Syiah. Ia juga menuding Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah parpol dan ormas Islam membantu ISIS untuk menghancurkan Syiah.

Jalaluddin Rakhmat membabi-buta menggeneralisasi isu. Ia mengatakan siapa yang anti-Syiah dia mendukung ISIS. “Kelompok anti-Syiah adalah prospek utama pemicu konflik di Indonesia, dengan membantu ISIS untuk menghancurkan Syiah. Kelompok tersebut seperti MUI, MIUMI, dan orang-orang di PKS tidak menyukai Syiah,” kata orang yang akrab disapa kang Jalal (bumisyam.com 5/08).
ISIS, yang keberadaannya masih menimbulkan banyak pertanyaan publik  tiba-tiba dijadikan ‘senjata’ baru untuk memojokkan umat mayoritas, Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Manuver Syiah menyebut MUI ikut bagian kelompok mendukung ISIS saja, sudah stigma yang mempunyai bobot dan tujuan tak sederhana.
MUI adalah salah satu representasi mayoritas organisasi Sunni di seluruh Indonesia. Jika MUI saja dituduh Syiah, bagaimana yang lain?
Pernyataan Jalal sekaligus mengamankan eksistensi Syiah di Indonesia yang akhir-akhir ini sudah diungkap kesesatan dan bahayanya bagi NKRI.
Sebagaimana di Suriah dan Iraq, kaum Muslimin di Indonesia yang menolak Syiah bukan secara otomatis pendukung ISIS. Penolakaan Syiah semata berdasarkan atas penyimpangan akidah Syiah, dan bahayanya bagi NKRI. Ingat, Syiah hanya tunduk pada imam mereka di Iran, bukan di Indonesia.

hidayatullah.com

isu ISIS menutupi pemberitaan tentang penderitaan rakyat suriah.

Soal Isu ISIS, Inilah Rekomendasi JITU untuk Jurnalis Muslim

Wartawan Muslim harus tetap mengabarkan janji Rasulullah tentang khilafah minhajunnubuwwah dan tidak berhenti meski ada kasus ISIS
Soal Isu ISIS, Inilah Rekomendasi JITU untuk Jurnalis Muslim

Hidayatullah.com–Jurnalis Islam Bersatu (JITU) mengeluarkan rekomendasi sehubung dengan maraknya pemberitaan tentang Islamic State Iraq and Syam (ISIS). Rekomendasi ini ditujukan bagi seluruh wartawan yang tergabung dalam JITU.
Menurut JITU, tegaknya khilafah ‘alaa minhajin Nubuwwah dan syariat Islam adalah cita-cita setiap umat Islam. Karena itu, wartawan Muslim diminta tetap mengabarkan janji Rasulullah tersebut agar kabar Nabi tida kabur dan hilang dengan adanya isu ISIS, demikian salah satu poin isi rekomendasi JITU yang diterima hidayatullah.com, Jumat (07/08/2014) malam.
Terkait simbol Islam (panji Tauhid) yang berpotensi untuk dilecehkan atas merebaknya isu ISIS ini, JITU merekomendasikan kepada setiap anggotanya agar berhati-hati dalam pemberitaannya, sehingga pelecehan tersebut tidak disalahpahami pembaca. Sebab simbol-simbol tersebut, misalnya; bendera dan logo yang pernah digunakan Rasulullah.
Pada poin ketiga JITU meminta kepada seluruh anggotanya untuk mewaspadai agenda yang sedang diusung musuh-musuh yang membonceng pada isu ISIS.
“Karena itu, dalam pemberitaannya anggota JITU harus cermat dalam memilih nara sumber,” demikian kutipan poin ketiga.
Pada terakhir, JITU merekomendasikan kepada seluruh anggotanya untuk terus memberitakan penderitaan rakyat Suriah atas kebiadaban rezim Syiah Nushairiyyah pimpinan Bashar al-Assaad. Jangan sampai isu ISIS ini menutup pemberitaan perjuangan dan penderitaan rakyat Suriah.

sumber: hidayatullah.com,

Selasa, 05 Agustus 2014

Tokoh Gereja aksi dan syi'ah Tolak ISIS di Indonesia

Syiah dan sejumlah tokoh kepercayaan mendeklarasikan penolakan akan keberadaan Daulah Islam Iraq dan Suriah (ISIS) di Indonesia.
“Kami menolak ISIS di Indonesia. Pemerintah segara bertindak menanggulanginya,” ucap salah satu tokoh agama yang hadir dalam konferensi pers bersama di Jakarta, Senin (4/8/2014) kemarin.
Selain mengeluarkan deklarasi, mereka juga memutar film tentang “ISIS’s Nightmares”, dan ISIS dalam tinjauan sejarah Islam oleh Penasehat OASE, Ketua Dewan Syura IJABI Jalaluddin Rakhmat.
Beberapa tokoh agama itu berpendapat ISIS dianggap tak layak diikuti.
“ISIS organisasi membahayakan, “ tambah tokoh agama lainnya.
Acara dengan tema “Tolak ISIS. Umat Beragama dan Kepercayaan Menolak ISIS di Indonesia” ini digagas oleh OASE,  salah satu lembaga binaan Syiah bersama Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI).
Acara ditutup dengan pembubuhan tandatangan sebagai simbol penolakan terhadap ISIS. Dengan pembubuhan tandatangan kelompok tersebut berharap suasana kondusif tetap terjadi di Indonesia.
“Kami menolak, dan suasana kondusif harus diutamakan,” tutup tokoh buruh Muchtar Pakpahan.
Adapun tokoh agama dan kepercayaan yang hadir ialah: Badan Koordinasi Organisasi-organisasi Kepercayaan terhadap Tuhan YME (BKOK), Persatuan Gereja Indonesia, Majelis Tao, Jemaat Ahmadiyah, HKBP Philadelphia, Konferensi Wali Gereja Indonesia/Setara Institut, Parisadha Hindu Darma Indonesia, Tokoh Buruh Muchtar Pakpahan, dan Tokoh Syiah dan Penasehat
OASE Jalaludin  Rahmat.
Sementara itu, salah satu anak pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abubakar Ba’asyir,  Abdurrochim Ba’asyir mengatakan,  kelompok Syiah dan gerakan sekuler sedang berusaha memanfaatkan isu ISIS untuk mendeligitimasi kelompok Islam lain.
“Ini sangat berbahaya buat umat, karena akan menjadikan mereka mendapat posisi di celah kebencian umat,“ ujar Abdurrochim Ba’asyir dalam rilisnya hari Selasa (05/08/2014).
Seperti diketahui, OASE,  penyelenggara acara ini adalah salah satu lembaga binaan Syiah bersama Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI).

Jalaluddin Rakhmat Berharap Duduk di Komisi Agama DPR

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Koordinator OASE Emilia Renita AZ dan Presedium Jokowers Dadan Hamdani

Hidayatullah.com—Tokoh Syiah yang terpilih Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Jalaluddin Rakhmat berharap ditempatkan di Komisi VIII yang meliputi soal agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan kelak setelah resmi aktif.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini berharap dapat menyalurkan aspirasinya dalam bidang perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, agama, dan sosial di komisi tersebut. Terlebih lagi, selama ini perhatiannya tak pernah jauh dari hal tersebut.
“Jadi bisa membari sumbangsih di situ, selain juga bisa mengatur menteri agama. Jadi lebih baik mengatur daripada menjadi menterinya,” ujar Jalaluddin seusai bersama tokoh lintas agama menyatakan sikap menolak ISIS di Jakarta, Senin (4/8/2014) dikutip Kompas.com.
Jalaluddin menambahkan, kelak jika duduk di Komisi VIII, ia akan memfokuskan pada terbentuknya undang-undang perlindungan agama. Sebab, lanjut Jalaluddin, perlindungan agama masih menjadi permasalahan yang rumit di Indonesia.
“Hal yang paling penting masyarakat harus terlindungi. Selama tidak mengganggu dan menghambat orang lain, seluruh kebebasan tidak dibatasi,” ujarnya.

Hidayatullah.com

isu ISIS

BEBERAPA hari ini fenomena Daulah Islam Iraq dan Suriah (ISIS) tiba-tiba marak di Indonesia.
Entah, apa motivasinya, tiba-tiba nama gerakan kecil yang tiba-tiba muncul (atau lebih jelasnya dimunculkan) ke publik.
Sebenarnya, ISIS hanyalah salah satu sayap miliki gerakan jihad yang gerakannya banyak di Timur Tengah. Sementara di Indonesia hanya berupa wacana. Kalaupun ada, hanya hitungan jari.
Tapi entah mengapa tiba-tiba orang sekaliber Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN hingga Mengkopolkan ikut bersuara. Bahkan terakhir organisasi Syiah tiba-tiba juga ikut lantang?
Jauh sebelum ini, ulama terkemuka asal Yaman Az-Zindani pernah menyampaikan dalam orasinya tentang Departemen Pertahanan Nasional AS yang memberikan Laporan Politik kepada Obama bahwa pada Tahun 2025 kelak Khilafah Islamiyah kemungkinan besar akan berdiri.
Wakil Ketua Parlemen RusiaMichael Buriyev juga pernah memprediksi bahwa peradaban dunia baru akan bangkit pada tahun 2020. Wilayahnya membentang dari sebelah timur China hingga sebelah barat Samudra Atlantik. Peradaban itu bernama Khilafah Islam.
Pertanyaannya, apakah Barat hanya diam jika benar prediksi ini terjadi?
Siapa pula yang akan memancing di air keruh “pergolakan akhir zaman”?
Jika benar prediksi Az Zindani dan Wakil Ketua Parlemen Rusia itu terjadi,  dipastikan pihak Barat tak akan membiarkan begitu saja.
Setidaknya mereka akan mengerahkan tenaga dan pikiran untuk merusak citra Khilafah Islamiyah atau Daulah Islam khususnya dimata manusia seluruh dunia.
Sebagaimana keberhasilan mereka menjegal bangkitnya kekuatan Islam di Afghanistan dengan politik belah bambu dan adu domba antar kekuatan Islam.
Sebagaimana saat ini mereka melakukan hal yang sama dengan cara mendompleng munculnya fenomena ISIS.
Bedanya adalah para pendompleng gerakan Islam saat ini bukanlah kelompok oportunis semata, namun ada kaum MAHDIISME (golongan yang memahami dan meyakini bahwa akhir zaman akan muncul seorang sosok juru selamat) saat ini menemukan kembali vitalitasnya mengingat dekatnya akhir zaman.
Haruslah berhati-hari, karena mereka saat ini seolah menjadi parasit berbahaya dalam tubuh gerakan-gerakan jihad Islam dalam usaha membangun Khilafah Islamiyah. Di antara mereka ada  Syiah, Ahmadiyah dll.
Karena itu sebaiknya umat Islam berhati-hati atas isu ini dan tidak terkecoh isu-isu yang ujungnya mendelegitimasi syariah.*